Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JEMBRANA. Fenomena kemarau berkepanjangan atau El Nino yang tengah terjadi mulai menjadi perhatian petani kakao di Kabupaten Jembrana, Bali.
Untuk menjaga produktivitas dan kualitas biji kakao, petani kebun kakao anggota Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya (KSS) menyiapkan sejumlah strategi adaptasi menghadapi perubahan iklim.
Kebun kakao anggota KSS yang berada di Desa Candikusuma, Kabupaten Jembrana, Bali, mulai memperkuat pengelolaan kebun melalui penyediaan cadangan air, optimalisasi tanaman penaung, hingga pemilihan klon kakao yang lebih adaptif terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Sebagai informasi, Koperasi Kakao KSS telah menembus pasar ekspor berkat pendampingan Yayasan Kalimajari. Ekspor perdana koperasi sebanyak satu kontainer berukuran 20 feet dilakukan pada 2015 ke Prancis. Hingga kini, produk kakao fermentasi KSS telah dipasarkan ke sejumlah negara lainnya seperti Belanda, Belgia, Jepang, dan Australia.
Baca Juga: Arus Petikemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7% pada Juni 2026
Direktur Yayasan Kalimajari, Agung Widiastuti mengatakan pasar ekspor menjadi salah satu penopang kinerja koperasi. Saat ini, negara-negara Eropa berkontribusi sekitar 65% hingga 70% terhadap ekspor KSS.
Namun, dari sisi produksi, perubahan iklim menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari. Menurut Agung, dampak El Nino paling terasa pada penurunan jumlah biji kakao yang dapat diproses menjadi kakao fermentasi.
"Kalau penurunan produksi di tempat lain mungkin tidak terlalu tinggi. Namun karena kami melakukan fermentasi, biji kakao yang bisa lanjut ke proses fermentasi itu yang mengalami penurunan," ujar Agung kepada Kontan, dalam agenda media visit proyek Accelerating Consumer Transformation (ACT!) di Jembrana, Bali, Kamis (30/7/2026).
Agung menjelaskan, kondisi cuaca ekstrem, baik kekeringan maupun curah hujan tinggi, sama-sama memberikan tekanan terhadap produksi kakao fermentasi.
Ia mencontohkan, fenomena La Nina pada 2022 menyebabkan produksi biji kakao fermentasi KSS mengalami penurunan hingga sekitar 45%. Saat curah hujan terlalu tinggi, banyak buah kakao yang mengalami pembusukan sehingga jumlah biji yang dapat difermentasi ikut berkurang.
"Kalau terlalu banyak hujan, buah menjadi busuk sehingga hasil fermentasi berkurang signifikan," katanya.
Untuk menghadapi tantangan iklim tersebut, KSS bersama Yayasan Kalimajari melakukan pemetaan klon kakao (clone mapping) untuk menemukan varietas yang paling sesuai dengan kondisi lingkungan Jembrana.
Menurut Agung, setiap wilayah memiliki karakteristik berbeda sehingga klon yang unggul di satu daerah belum tentu memiliki performa yang sama di daerah lain. Sejumlah klon seperti ICCRI 09 dan RTJN 01 disebut memiliki ketahanan lebih baik terhadap kondisi musim ekstrem.
Perkuat cadangan air dan penaung
Pengurus sekaligus petani muda Koperasi KSS, Wayan Diana atau Andi mengatakan petani kini lebih siap menghadapi El Nino dibandingkan periode sebelumnya.
Menurut dia, berdasarkan pengalaman menghadapi musim ekstrem, terdapat dua persoalan utama yang harus diantisipasi petani, yakni ketersediaan air dan terpaan angin.
"Berkaca dari kejadian El Nino sebelumnya, banyak teman-teman petani yang menyampaikan bahwa masalah utamanya hanya dua, yaitu air dan angin," ujar Andi.
Untuk mengatasi keterbatasan air, petani melakukan pengadaan tong penyimpanan air serta membuat kolam-kolam kecil sebagai cadangan air di kebun.
Selain itu, petani juga memperkuat keberadaan tanaman penaung untuk melindungi tanaman kakao dari paparan sinar matahari langsung.
"Kami juga memperbanyak wind block, sehingga angin tidak terlalu langsung mengenai kakao. Angin bisa pecah di bagian atas," jelasnya.
Bertaruh pada pengalaman
Sementara itu, petani sekaligus pemilik lahan kakao binaan KSS, I Ketut Sudomo, mengatakan petani juga menerapkan langkah sederhana berdasarkan pengalaman menghadapi musim kemarau sebelumnya.
Salah satunya dengan menggemburkan tanah di sekitar batang tanaman kakao. Menurut Sudomo, tanah yang terlalu kering hingga pecah dapat menyebabkan akar tanaman terganggu.
"Kekeringan yang disertai tanah pecah bisa mengakibatkan akar-akar tanaman terputus," ujarnya.
Dengan menggemburkan tanah, pori-pori tanah menjadi lebih terbuka sehingga sirkulasi udara dan kelembapan tanah lebih terjaga. Cara tersebut membantu tanaman lebih mampu bertahan ketika musim kemarau berlangsung.
Meski demikian, Sudomo menilai ketersediaan air tetap menjadi faktor utama untuk menjaga produktivitas tanaman kakao.
Saat ini, kebunnya telah memiliki sumur bor yang dibantu oleh KSS. Namun, fasilitas tersebut masih membutuhkan jaringan pipa agar air dapat dialirkan langsung ke area kebun.
"Kami berharap dalam waktu dekat, di bulan ini, air dari sumur bor tersebut bisa dialirkan ke kebun. Terima kasih kepada KSS dan koperasi yang sudah membantu kami dalam mengatasi kekeringan," tandas Sudomo.
Sebagai informasi, Koperasi KSS memproduksi 2.794 ton kering sepanjang 2025 pada kondisi cuaca normal.
Dengan luas total 2,5 hektare (ha) dan luas bangunan 0,5 ha, KSS memiliki tanaman produktif seluas 1,5 ha dan tanaman berusia 2-3 tahun seluas 1 ha.
Dengan teknik pertanian agroforestri sederhana, KSS bertujuan mendukung petani kakao dengan mempromosikan pertanian berkelanjutan, serta memberdayakan komunitas petani melalui aksi kolektif, pengembangan kualitas, dan akses pasar.
Adapun KSS merupakan salah satu koperasi yang pernah memegang sertifikasi berkelanjutan dari Rainforest Alliance, Organic Uni Eropa (EU), dan United States Department of Agriculture (USDA).
Baca Juga: Laba MINE Menyusut, Meski Pendapatan Naik 6% Jadi Rp 1,22 Triliun Semester I-2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














