Reporter: Leni Wandira | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar kakao global diperkirakan masih menghadapi volatilitas harga hingga musim tanam 2026-2027. Kondisi cuaca yang dipengaruhi El Niño serta penurunan produksi di negara-negara produsen utama diperkirakan mempersempit surplus pasokan dunia dan berpotensi kembali memicu defisit apabila gangguan iklim memburuk.
Chairman and Managing Director TransGraph Consulting, Nagaraj Meda, mengatakan produksi kakao global pada musim tanam 2026-2027 diproyeksikan turun sekitar 5% secara tahunan menjadi 4,87 juta metrik ton dari estimasi 5,105 juta metrik ton pada musim sebelumnya.
Penurunan produksi tersebut membuat surplus pasokan global diperkirakan menyusut tajam menjadi sekitar 80.000 metrik ton, jauh lebih rendah dibandingkan surplus sekitar 415.000 metrik ton pada musim 2025-2026.
Baca Juga: PSEL Legok Nangka Diresmikan, DPR Ingatkan Pemda Alokasikan 3% APBD Infrastruktur
"Jika dampak El Niño memburuk, surplus yang tipis itu berpotensi kembali berubah menjadi defisit," ujar Nagaraj kepada Kontan usai menghadiri 9th Indonesian International Cocoa Conference (IICC) di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Menurut dia, tekanan terbesar masih berasal dari Afrika Barat, terutama Pantai Gading dan Ghana yang memasok lebih dari 60% kebutuhan kakao dunia.
Produksi Pantai Gading diperkirakan turun sekitar 10% akibat kombinasi curah hujan ekstrem, periode kering, serta meningkatnya serangan penyakit black pod. Sementara produksi Ghana diproyeksikan turun sekitar 5% karena banjir dan gangguan kesehatan tanaman.
Di Asia Tenggara, Indonesia juga diperkirakan menghadapi tantangan serupa. TransGraph memproyeksikan produksi kakao nasional turun sekitar 5% menjadi sekitar 200.000 metrik ton pada musim 2026/2027 akibat risiko El Niño, penuaan tanaman, serangan hama, serta menyusutnya lahan produktif.
Meski demikian, Nagaraj memperkirakan harga kakao tidak akan kembali menyentuh rekor tertinggi seperti yang terjadi pada 2024. Dalam enam bulan ke depan, harga diperkirakan bergerak pada kisaran US$ 4.800 hingga US$ 6.800 per metrik ton.
"Harga kemungkinan akan turun pada Agustus hingga September ketika pasokan mulai masuk ke pasar. Namun penurunannya tidak akan terlalu dalam karena produksi global tetap lebih rendah," katanya.
Menurut Nagaraj, kisaran harga ideal bagi industri berada di level US$ 3.000 hingga US$ 5.000 per metrik ton. Rentang tersebut dinilai masih memberikan insentif bagi petani sekaligus tidak terlalu membebani industri pengolahan.
Di sisi lain, ia menilai Indonesia masih memiliki peluang memperkuat perannya dalam rantai pasok kakao dunia. Saat ini, produksi kakao domestik diperkirakan hanya sekitar 200.000 ton per tahun, sedangkan kebutuhan industri pengolahan telah mencapai sekitar 440.000 hingga 450.000 ton.
Akibatnya, sekitar separuh kebutuhan bahan baku industri masih harus dipenuhi melalui impor dari Pantai Gading, Ghana, maupun Ekuador.
Baca Juga: Suzuki Bawa Empat Mobil Hybrid di GIIAS 2026, Lebih Cocok untuk Konsumen Indonesia
"Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar 50% kebutuhan industrinya dari produksi dalam negeri. Produksi perlu ditingkatkan agar dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor," ujarnya.
Ia menilai peningkatan produksi lebih realistis dilakukan melalui kenaikan produktivitas lahan dibandingkan perluasan areal tanam. Saat ini produktivitas kakao Indonesia diperkirakan hanya sekitar 0,14 ton per hektare, jauh di bawah Ghana yang mencapai sekitar 0,46 ton per hektare.
Menurut Nagaraj, pemerintah bersama pelaku industri perlu mempercepat program peremajaan tanaman serta penggunaan varietas yang lebih tahan terhadap penyakit black pod maupun vascular streak dieback (VSD). Dengan langkah tersebut, produktivitas kebun diharapkan dapat meningkat hingga sedikitnya 0,30 ton per hektare.
Selain peningkatan produksi, Nagaraj menilai Indonesia memiliki keunggulan melalui industri kelapa sawit yang mampu menghasilkan cocoa butter equivalent (CBE) dan cocoa butter substitute (CBS). Produk turunan sawit tersebut dapat menjadi alternatif bagi industri makanan ketika harga cocoa butter berada di level tinggi.
"Kebijakan pemerintah Indonesia pada dasarnya sudah mendukung industri. Yang perlu diperkuat sekarang adalah peningkatan produktivitas kebun agar produksi kakao domestik dapat mengejar kebutuhan industri," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














