kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   31.000   1,17%
  • USD/IDR 17.664   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.636   -31,42   -0,47%
  • KOMPAS100 867   -5,52   -0,63%
  • LQ45 658   -5,19   -0,78%
  • ISSI 231   -0,99   -0,43%
  • IDX30 368   -3,06   -0,83%
  • IDXHIDIV20 455   -4,73   -1,03%
  • IDX80 99   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,37   -1,08%
  • IDXQ30 118   -1,17   -0,99%

ESGIN Bidik Proyek Karbon & Investasi Hijau Agroindustri dan Peternakan di Lampung


Jumat, 04 September 2026 / 16:13 WIB
ESGIN Bidik Proyek Karbon & Investasi Hijau Agroindustri dan Peternakan di Lampung
ILUSTRASI. PT ESGIN Global Partners Gelar Business Gathering 2026 di Lampung pada Kamis (3/9/2026) (ESGIN Global Partners/ESGIN Global Partners)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Ridwan Mulyana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT ESGIN Global Partners menggarap pengembangan proyek karbon dan investasi hijau berbasis sektor pertanian, agroindustri, dan peternakan. ESGIN melirik Lampung sebagai salah satu provinsi yang memiliki potensi pengembangan ekosistem proyek karbon dan investasi hijau berbasis tiga sektor tersebut.

Chief Executive Officer ESGIN Global Partners, Brandon Keam mengungkapkan bahwa ESGIN ingin menghubungkan potensi Lampung di sektor pertanian, agroindustri dan peternakan dengan teknologi rendah karbon, green investment, dan carbon markets. "Sehingga pengurangan emisi tidak hanya memberikan dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi industri, petani, dan daerah,” ujar Brandon melalui keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id pada Jumat (4/9/2026).

Salah satu yang menjadi fokus ESGIN adalah industri tapioka. Brandon menjelaskan bahwa industri tapioka memiliki peluang pengembangan proyek karbon karena air limbah dengan kandungan bahan organik tinggi dapat menghasilkan gas metana (CH₄) dalam proses pengolahan anaerobik.

Melalui penerapan teknologi methane capture, destruction dan utilization, emisi metana dapat dikurangi. Sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan, bergantung pada konfigurasi proyek.

ESGIN akan mengintegrasikan pengembangan teknologi tersebut dengan Digital Monitoring, Reporting and Verification (MRV), carbon accounting, pengembangan proyek karbon, serta akses terhadap pembiayaan hijau dan pasar karbon. 

Sebagai bagian dari upaya tersebut, ESGIN menyelenggarakan Business Gathering 2026 pada Kamis (3/9/2026). Salah satu agenda yang mengusung tema “Transforming Agriculture & Agro-Industry in Lampung into Green Investment & Carbon Opportunities” ini adalah mengukuhkan kemitraan investasi proyek methane removal project pengolahan limbah cair antara ESGIN dengan 23 pabrik tepung tapioka di Lampung yang tergabung dalam Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI).

Pengukuhan kemitraan ini merupakan bentuk tindak lanjut atas nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) bersama yang telah ditandatangani pada Agustus 2026. Berdasarkan identifikasi awal, pipeline 23 pabrik anggota PPTTI tersebut diperkirakan memiliki potensi pengurangan emisi secara akumulatif sekitar 500.000 ton CO₂e.

Angka tersebut merupakan estimasi awal potensi pengurangan emisi. Volume pengurangan emisi terverifikasi dan kredit karbon yang dapat diterbitkan akan ditentukan setelah proyek melalui studi kelayakan, penetapan baseline, pemilihan metodologi, monitoring, validasi, verifikasi, registrasi, serta pemenuhan regulasi yang berlaku.

Dalam agenda yang sama, ESGIN juga menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) dengan PT Juang Jaya Abdi Alam, perusahaan peternakan sapi berskala besar di Lampung. Pokok kolaborasi berfokus pada pengembangan dan pengolahan limbah kotoran sapi menjadi biochar dengan mengombinasikannya dengan biomassa jerami padi.

Dengan basis populasi sekitar 20.000 ekor sapi, kolaborasi tersebut menargetkan pengembangan kapasitas produksi biochar hingga sekitar 30.000 ton per tahun. Kapasitas dan realisasi akhir akan ditentukan berdasarkan hasil studi kelayakan, ketersediaan dan karakteristik bahan baku, konfigurasi teknologi, serta pengujian kualitas produk.

Pemanfaatan biochar yang dihasilkan akan diarahkan sebagai pembenah tanah (soil amendment) guna mendukung peningkatan kualitas tanah dan praktik pertanian berkelanjutan. Proyek tersebut juga akan dikaji potensinya sebagai carbon removal project, dengan memperhatikan metodologi carbon accounting, ketahanan penyimpanan karbon, Digital MRV, validasi, verifikasi, serta standar dan regulasi karbon yang berlaku.

Menurut Brandon, kolaborasi tersebut menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular yang menghubungkan sektor peternakan dan pertanian. “Melalui kolaborasi ini, kami ingin mentransformasikan kotoran ternak dan jerami padi menjadi biochar yang memiliki nilai bagi pertanian sekaligus berpotensi memberikan manfaat iklim. Model ini menghubungkan waste management, soil improvement, carbon removal, dan green investment dalam satu ekosistem ekonomi sirkular,” kata Brandon.

Selain proyek industri tapioka dan biochar, ESGIN juga membuka diskusi lanjutan bersama Pemerintah Provinsi Lampung mengenai potensi pengembangan proyek karbon pada sektor persawahan melalui penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD).

Sebagai informasi, AWD merupakan pendekatan pengelolaan irigasi dengan mengatur periode penggenangan dan pengeringan sawah secara terkontrol. Penerapannya berpotensi meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus mengurangi emisi metana dari lahan persawahan.

Pengurangan emisi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai proyek karbon apabila memenuhi metodologi, baseline, additionality, monitoring, reporting and verification, serta ketentuan regulasi yang berlaku. Pengembangan AWD juga membuka peluang untuk melibatkan petani secara langsung dalam transformasi menuju pertanian rendah karbon sekaligus menciptakan potensi sumber nilai ekonomi baru dari aktivitas pengurangan emisi.

Penandatanganan MoA dalam ESGIN Business Gathering tersebut disaksikan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, yang hadir mewakili Gubernur Lampung. Elvira didampingi Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Lili Mawarti.

Setelah penandatanganan MoA, ESGIN akan melanjutkan pengembangan proyek melalui studi kelayakan, validasi data, kajian teknologi, penetapan baseline, pemilihan metodologi karbon, pengembangan Digital MRV, carbon accounting, serta penyusunan struktur investasi sebelum memasuki tahap implementasi dan komersialisasi.

Selain itu, ESGIN juga memperkuat kolaborasi dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Lampung, yang diwakili Ketua Harian Umar Ahmad. Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi peluang proyek karbon dan investasi hijau yang dapat melibatkan petani dan komunitas pertanian Lampung.

Potensi kolaborasi tersebut mencakup pemanfaatan biomassa dan residu pertanian, pengembangan biochar, pertanian regeneratif, praktik pertanian rendah emisi, serta berbagai inisiatif carbon removal. Melalui berbagai kolaborasi tersebut, ESGIN mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi hijau dan sirkular yang terintegrasi di Lampung.

Ekosistem tersebut mempertemukan pemerintah, petani, pelaku agroindustri dan peternakan, penyedia teknologi, lembaga keuangan, investor, serta pelaku pasar karbon. "Model tersebut diharapkan mampu mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang ekonomi," tandas Brandon.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×