Reporter: Leni Wandira | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli terus melanjutkan ekspansi jaringan ritel fisiknya sepanjang 2026. Melalui entitas anaknya, PT Global Astha Niaga (GAN), perseroan telah menambah hampir 20 gerai hello Store hingga saat ini.
Director of Retail Operations Global Teknologi Niaga Blibli Alvin Harirahardjo mengatakan, ekspansi jaringan hello Store masih akan berlanjut hingga akhir 2026. Namun, ia belum dapat menyebutkan secara pasti jumlah gerai tambahan yang akan dibuka perseroan.
"2026 itu kami sudah nambah mungkin lebih dari 20. Saya tidak ingat exact number-nya, tetap kami menambah hampir 20-an. Waktu yang pasti kita tetap berekspansi," ujar Alvin saat ditemui Kontan, Jumat (4/9/2026).
Baca Juga: Harga Produk Apple Bisa Naik hingga 30%, Ini Strategi Blibli (BELI) Genjot Penjualan
Terbaru, hello Store membuka gerai di Grand Indonesia, Jakarta. Gerai yang berlokasi di West Mall lantai UG tersebut menjadi gerai hello Store ke-46 yang dioperasikan oleh GAN sebagai Apple Authorized Reseller (AAR).
Menurut Alvin, pemilihan lokasi menjadi salah satu faktor penting dalam ekspansi jaringan. Grand Indonesia dinilai memiliki lokasi strategis dengan tingkat kunjungan yang tinggi serta karakter konsumen yang sesuai dengan target pasar perseroan.
"Karena di sini tempatnya strategis, salah satu mall yang terbesar, ramai di pusat kota. Dan segmen market-nya cocok sama yang kita target," katanya.
Alvin mengatakan, setiap lokasi hello Store memiliki karakteristik pasar yang berbeda. Karena itu, pemilihan lokasi gerai disesuaikan dengan profil konsumen di kawasan tersebut.
Ia mencontohkan, gerai di kawasan seperti Kuningan City memiliki karakter pengunjung yang berbeda karena berada di area yang banyak dihuni pekerja kantoran. Sementara itu, Grand Indonesia memiliki segmen pengunjung yang lebih beragam.
Baca Juga: ESGIN Bidik Proyek Karbon & Investasi Hijau Agroindustri dan Peternakan di Lampung
"Kalau ditanya beda, pasti ada yang beda. Tiap-tiap toko itu punya perbedaan, check-in market yang kami tuju, tapi ya tidak beda jauh," ujar Alvin.
Meski terus memperluas jaringan fisik, Blibli tetap mengintegrasikan kanal offline dan online dalam strategi omnichannel. Konsumen dapat memperoleh produk yang sama melalui berbagai kanal, sementara gerai fisik memberikan kesempatan bagi konsumen untuk mencoba produk secara langsung.
Alvin bilang, pengalaman tersebut masih menjadi kebutuhan konsumen Indonesia, khususnya ketika hendak membeli perangkat teknologi baru.
"Kami masih percaya bahwa customer Indonesia masih mau touch and feel. Mereka ingin, apalagi produk baru, mereka ingin merasakan beratnya, genggamannya gimana, layarnya seterang apa. Itu kan nggak bisa dilihat lewat layar kaca," jelasnya.
Di sisi lain, ekspansi jaringan ritel dilakukan ketika industri perangkat elektronik menghadapi tekanan dari potensi kenaikan harga akibat kondisi pasokan chipset. Menurut Alvin, kenaikan harga tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap penjualan perangkat.
Meski demikian, dia melihat konsumen loyal produk Apple masih tetap memburu perangkat tersebut.
Baca Juga: Salim Group Ambil Alih Penuh IndoData Center, Siapkan Kapasitas hingga 500 MW
"Ya pasti terdampak. Cuma so far kalau kami lihat, customer-customer Apple loyalist masih tetap. Tetap mereka memburu produk-produk, terutama handphone-nya kan masih. Masih jadi idola," katanya.
Alvin menambahkan, dampak kondisi chipset tidak hanya berpotensi dirasakan oleh smartphone, tetapi juga perangkat lain yang menggunakan komponen tersebut, seperti tablet dan perangkat wearable.
"Semua kan pakai chipset juga. Tablet, jam pun nanti akan naik kan pakai chipset juga. Jadi semuanya, segala sesuatu yang pakai chip itu pasti akan terdampak," ujarnya.
Adapun ekspansi hello Store menjadi bagian dari penguatan jaringan ritel Blibli. Per akhir Juni 2026, hello Store telah memiliki 43 gerai di Indonesia. Dengan pembukaan gerai Grand Indonesia, jumlah tersebut bertambah menjadi 46 gerai.
Dari sisi kinerja, Blibli mencatatkan kinerja positif di kuartal I 2026. Pendapatan perseroan melesat hingga dua digit, disertai pertumbuhan di seluruh lini bisnis dan efisiensi biaya yang lebih baik.
Pendapatan neto konsolidasian bertumbuh 67% year on year (yoy) dari Rp 4.694 miliar menjadi Rp 7.835 miliar. Peningkatan kinerja seluruh segmen usaha, terutama Institusi dan Toko Fisik, yang didukung oleh peningkatan penjualan smartphone, menopang pencapaian ini.
Take rate meningkat jauh secara tahunan dari 9,0% menjadi 9,9%, didukung peningkatan take rate terutama pada segmen Ritel 1P dan Institusi. Hal ini merupakan hasil dari pertumbuhan Laba Bruto Sebelum Diskon (Gross Profit Before Discount/GPBD) sebesar 21% yoy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














