kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.790.000   -15.000   -0,53%
  • USD/IDR 16.909   -48,00   -0,28%
  • IDX 8.992   -18,15   -0,20%
  • KOMPAS100 1.239   1,44   0,12%
  • LQ45 875   3,69   0,42%
  • ISSI 330   0,16   0,05%
  • IDX30 448   2,63   0,59%
  • IDXHIDIV20 528   6,59   1,26%
  • IDX80 138   0,26   0,19%
  • IDXV30 146   2,21   1,53%
  • IDXQ30 144   1,54   1,08%

Gaikindo: Pembangunan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia tidak terlalu sulit


Jumat, 05 November 2021 / 18:38 WIB
Gaikindo: Pembangunan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia tidak terlalu sulit
ILUSTRASI. Kendaraan listrik. KONTAN/Baihaki/29/1/2020


Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan jika membangun ekosistem pengembangan kendaraan listrik di Indonesia tidaklah terlalu sulit.

Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto memaparkan jika sejatinya pengembangan ekosistem tersebut memang dipengaruhi oleh investasi dari tiap produsen sendiri. Jika investasi yang dikeluarkan besar, maka hal itu akan terlihat dan selaras dengan pabrik-pabrik pembuatnya.

"Sebetulnya tidak terlalu sulit untuk membangun ekosistem atau lingkungan pendukung kendaraan berlistriknya. Tetapi memang harus diselaraskan dengan jumlah investasi di pabrik mobilnya sendiri. Sebagian pabrik-pabrik mobil sekarang kan juga sudah punya ekosistemnya sendiri," ujarnya saat dihubungi oleh Kontan, Jumat (5/11).

Jongkie melanjutkan, jika pabrik tersebut sudah ada, maka hanya tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan kendaraan listriknya.

Baca Juga: Gaikindo: Segmen MPV masih akan menjadi pilihan konsumen Indonesia

Namun demikian, ia menilai saat ini segmen harga masih menjadi kendala perkembangan kendaraan listrik di Indonesia. Untuk rata-rata harga mobil listrik murni saja, masih berada pada tingkatan Rp600 juta sedangkan daya beli konsumen tercatat pada rentang Rp200 juta hingga Rp 300 juta.

Selain itu, Gaikindo juga mengatakan penetrasi pasar kendaraan listrik di Indonesia masih rendah alias masih di bawah 1% terhadap penjualan mobil domestik. Ia mengatakan juga bahwa penyebaran infrastruktur berupa charging station masih terbatas dan industri komponen utama baterai yang masih dalam proses pembangunan, baru akan berproduksi pada 2024.

Jongkie berpendapat, produsen kendaraan bisa mulai memakai pendekatan dengan mengembangkan kendaraan listrik dengan harga terjangkau. "Kami sudah melihat hasil implementasi LCGC (low cost green car) yang dikembangkan 2013. Apabila kita bisa mengembangkan kendaraan listrik dengan harga terjangkau, itu bisa jadi salah satu pendekatan," tambah dia.

Selanjutnya: COP26 serukan transisi energi ramah lingkungan, begini tanggapan Gaikindo dan APM

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×