kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.014,65   8,27   0.82%
  • EMAS955.000 1,06%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Gakeslab: Biaya tes PCR turun akan berdampak pada rumah sakit dan laboratorium


Rabu, 18 Agustus 2021 / 16:50 WIB
Gakeslab: Biaya tes PCR turun akan berdampak pada rumah sakit dan laboratorium
ILUSTRASI. harga tes usap Polymerase Chain Reaction (PCR) turun


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan resmi menurunkan harga layanan tes pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dari yang sebelumnya Rp 900.000 menjadi Rp 495.000 di wilayah Jawa-Bali dan Rp 525.000 untuk wilayah lainnya. 

Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Randy H. Teguh mengatakan, kebijakan tersebut akan berdampak pada rumah sakit dan laboratorium yang melakukan tes PCR. Mengingat, jika seseorang memeriksa diri untuk tes PCR, yang harus dibayarkan adalah layanannya bukan hanya alat tes-nya saja. 

Jika merujuk pada Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan nomor HK.02.02/I/2845/2021 Tentang Batas Tarif Tertinggi Pemeriksaan Reserve Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), harga layanan tes PCR menimbang komponen jasa pelayanan, komponen bahan bahan habis pakai dan reagen, komponen biaya administrasi, overhead, dan komponen lainnya. 

Adapun mengenai harga alat tes semisal stik swab, harganya sudah diatur dalam E-katalog LKPP sehingga pihak perusahaan alkes tidak boleh menjual dengan harga lebih rendah. 

"Bagi industri alat kesehatan, tentu tidak berdampak langsung karena yang menentukan harga layanan ke konsumer adalah pihak rumah sakit dan laboratorium," kata dia kepada Kontan.co.id, Rabu (18/8). 

Baca Juga: Tarif Rp 450 ribuan, ini rincian harga tes swab PCR terbaru di 7 lokasi di Indonesia

Lantas, jika biayanya diturunkan, dampaknya tergantung bagaimana pihak rumah sakit dan laboratorium mengatasi perhitungan tersebut. Tentu harus menimbang operasional seperti gaji perawat, dan lainnya. 

Adapun untuk mengantisipasi adanya kenaikan permintaan tes PCR, Randy bilang, pelaku usaha tentu akan terus memantau dan mengikuti dinamika pasar, semisal permintaan meningkat, produksi harus ditingkatkan kapasitasnya. Dan jika harus impor, tentu pelaku usaha perlu mendapatkan sumber atau kuota impor lebih besar. 

Saat ini, 90% kebutuhan alat kesehatan untuk PCR seperti mesin PCR, stik swab, dan reagen masih diimpor karena hanya sedikit perusahaan lokal yang sudah bisa produksi. 

Randy menjelaskan, di Indonesia baru ada dua perusahaan yang mampu memproduksi mesin PCR. Sedangkan untuk reagen juga baru dua atau tiga perusahaan saja yang bisa produksi. 

Untuk alat kesehatan pendukung seperti APD, masker medis, sarung tangan karet, dan lainnya Indonesia sudah 80% bisa memenuhinya dari dalam negeri. 

 

Baca Juga: Mulai Rp 85 ribu, ini rincian harga tes swab PCR dan Antigen di Kimia Farma

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Digital Marketing in New Normal Era The Science of Sales Management

[X]
×