CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.016,00   11,88   1.18%
  • EMAS971.000 -0,31%
  • RD.SAHAM -1.86%
  • RD.CAMPURAN -0.70%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Gang of four, legenda konglomerasi orde baru


Selasa, 12 Juni 2012 / 08:09 WIB
Gang of four, legenda konglomerasi orde baru
ILUSTRASI. Minyak zaitun adalah salah satu jenis makanan untuk penderita asam urat.


Reporter: Rika, Markus Sumartomdjon | Editor: Djumyati P.

JAKARTA. Kepergian Liem Sioe Liong membuka kembali kenangan akan kelompok legendaris, the Gang of Four. Liem adalah motor utama empat serangkai Grup Salim itu. Dengan kepergian Liem, kini tinggal Djuhar Sutanto anggota Gang of Four yang masih hidup.

Alkisah, 40-an tahun silam, Liem yang dekat dengan Soeharto menerima saran dari sang presiden. Saran itu, Soeharto meminta Liem untuk mengajak kelompok bisnis Djuhar Soetanto bergabung dengannya. Waktu itu Djuhar memimpin kelompok bisnis Five Stars yang memasok kebutuhan TNI Angkatan Laut.

Belakangan, dua tokoh lainnya ikut merapat, yakni Ibrahim Risjad yang kenal lebih dulu dengan Djuhar, serta Sudwikatmono, saudara sepupu Soeharto. Mereka pun kerap disebut the Gang of Four.

Pada 1967, mereka resmi menjalankan PT Waringin Kentjana yang kemudian menjelma sebagai Grup Salim. Bisnis perdana mereka adalah tepung terigu yang merupakan hak monopoli dari Soeharto. Pabrik tepung itu, Bogasari, menguasai pasar tepung terigu di Indonesia dan menjadi pabrik tepung terbesar Asia di masanya.

Bisnis model serupa juga dikembangkan perusahaan di bisnis semen. Indocement yang berdiri tahun 1975 juga tumbuh pesat dan menguasai pasar semen di Tanah Air.

Dengan dua mesin cetak uang ini, Gang of Four makin aktif masuk ke segala bidang bisnis. Grup Salim menjadi konglomerasi terbesar di Indonesia sampai krisis menerjang di 1998.

Di antara Gang of Four, Liem menjadi pimpinan. Perannya antara lain mengatur urusan finansial perusahaan. "Om Liem menonjol karena dia yang membuka jalan masuknya investor ke Indonesia. Dia punya jaringan dengan Bangkok Bank, bank terbesar di ASEAN kala itu," kata Tahir, pimpinan Grup Mayapada dan menantu Mochtar Riady, teman dan rekan bisnis Liem.

Tokoh nomor dua kelompok ini ialah Djuhar Sutanto. Tak banyak informasi soal sosok ini dan sepak terjangnya. Yang jelas, ia pernah memegang pucuk pimpinan berbagai bisnis Grup Salim, mulai dari Indofood hingga First Pacific (Hong Kong). Nama Djuhar juga sempat tercatat sebagai salah satu pembayar pajak terbesar di Indonesia.

Tokoh ketiga, Sudwikatmono, membesarkan Grup Surya-Subentra. Bisnisnya dahulu meliputi perbankan (Bank Surya dan Bank Subentra), bisnis retail (Golden Trully), dan distribusi film (bioskop 21). Terakhir, Ibrahim Risjad. Di luar Grup Salim, ia membangun Bank Risjad Salim yang akhirnya jadi pasien BPPN.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×