kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.807.000   -30.000   -1,06%
  • USD/IDR 17.003   12,00   0,07%
  • IDX 6.996   -101,14   -1,43%
  • KOMPAS100 959   -17,56   -1,80%
  • LQ45 705   -13,64   -1,90%
  • ISSI 248   -2,03   -0,81%
  • IDX30 385   -6,03   -1,54%
  • IDXHIDIV20 484   -5,00   -1,02%
  • IDX80 108   -1,84   -1,68%
  • IDXV30 133   -0,80   -0,60%
  • IDXQ30 126   -1,85   -1,45%

GAPKI Proyeksikan Kenaikan Harga CPO Imbas Implementasi B50


Selasa, 28 Oktober 2025 / 18:23 WIB
GAPKI Proyeksikan Kenaikan Harga CPO Imbas Implementasi B50
ILUSTRASI. Produksi CPO Indonesia: Pekerja memanen kelapa sawit di Bogor, Jawa Barat, Senin (26/04). Produksi CPO Indonesia pada bulan ini diprediksi tumbuh 14 persen menjadi 4 juta ton berbanding 3,5 juta ton pada Maret lalu. KONTAN/Baihaki/26/04/2021


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan harga crude palm oil (CPO) akan mengalami kenaikan pada paruh kedua 2026, seiring dengan rencana pemerintah mengimplementasikan mandatori biodiesel B50.

Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengatakan, pelaksanaan B50 akan mendorong peningkatan permintaan sawit di dalam negeri, sehingga berpotensi mengerek harga CPO. 

"Kenaikan harga kemungkinan besar terjadi saat B50 mulai dijalankan, dengan asumsi kondisi pasar dan produksi tetap normal,” ujarnya kepada media, di Jakarta, Selasa (28/10/2025).

Baca Juga: Tekan Impor Solar, Ekspor Sawit Bakal Terkoreksi untuk Target B50 Tahun Depan

Menurut Eddy, pasar akan merespons kebijakan tersebut dengan optimistis, meskipun ada kekhawatiran dari sisi ketersediaan pasokan. Gapki menilai, implementasi B50 akan memperkuat fundamental industri sawit nasional karena mendorong penyerapan domestik.

“Gapki selalu melihat dengan optimis. Walau ada kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga, peningkatan konsumsi biodiesel akan menjadi penopang utama industri sawit,” katanya.

Eddy menambahkan, harga CPO berpotensi semakin kuat apabila produksi minyak nabati lain menurun. Hal ini serupa dengan tren pada 2024, di mana harga minyak sawit lebih tinggi dibanding minyak nabati lain, yang menyebabkan penurunan ekspor.

Baca Juga: Harga CPO Berpotensi Tembus US$ 1.300, GAPKI Peringatkan Dampak B50 pada Ekspor

“Kalau pasokan minyak nabati lain menurun, otomatis harga sawit akan terdorong. Seberapa besar kenaikannya, mungkin bisa kita lihat nanti saat forum IPOC,” jelasnya.

Dari sisi produksi, Gapki memperkirakan output sawit nasional masih akan tumbuh terbatas di kisaran 54–55 juta ton pada 2026. 

"Produksi memang naik, tapi tidak terlalu signifikan. Kenaikan ini lebih karena faktor kondisi normal dan dukungan kebijakan biodiesel,” kata Eddy.

Baca Juga: Stok CPO Indonesia Naik 1,5% di Juli, Ekspor Lesu ke China dan Eropa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×