kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.559.000   -11.000   -0,43%
  • USD/IDR 18.166   -36,00   -0,20%
  • IDX 5.098   -184,26   -3,49%
  • KOMPAS100 656   -29,76   -4,34%
  • LQ45 515   -24,19   -4,48%
  • ISSI 171   -5,38   -3,04%
  • IDX30 289   -13,61   -4,49%
  • IDXHIDIV20 388   -17,40   -4,29%
  • IDX80 76   -3,38   -4,28%
  • IDXV30 108   -4,36   -3,89%
  • IDXQ30 98   -4,24   -4,16%

Garuda Indonesia (GIAA) Raup Pendapatan US$ 2,71 Miliar hingga Kuartal III 2026


Kamis, 29 Oktober 2026 / 19:49 WIB
Garuda Indonesia (GIAA) Raup Pendapatan US$ 2,71 Miliar hingga Kuartal III 2026
ILUSTRASI. Pesawat Garuda Indonesia (ANTARAFOTO/Adiwinata Solihin)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatat pertumbuhan pendapatan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Pendapatan konsolidasi Garuda Indonesia Group mencapai US$ 2,71 miliar atau tumbuh 13,2% secara tahunan (YoY).

Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Oentoro mengatakan peningkatan kontribusi bisnis non-penerbangan menjadi salah satu bagian dari transformasi bisnis perusahaan.

"Keberlanjutan pertumbuhan Garuda Indonesia memerlukan fondasi bisnis penerbangan yang semakin kuat, sekaligus kontribusi yang lebih besar dari seluruh ekosistem usaha Grup," ujar Thomas dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).

Menurut dia, perusahaan terus mengoptimalkan produktivitas, pemanfaatan aset dan sinergi antarentitas usaha dengan dukungan Danantara selaku pemegang saham.

Pertumbuhan pendapatan tersebut terjadi di tengah tekanan biaya bahan bakar pesawat atau avtur yang masih tinggi. Sepanjang Januari-September 2026, beban bahan bakar Garuda Indonesia Group naik 42,9% yoy menjadi US$ 1,03 miliar.

Baca Juga: Mengejar Efisiensi Logistik Lewat Integrasi Tol

Sementara itu, total beban operasional meningkat 15,7% yoy. Meski demikian, perusahaan menyebut kenaikan beban operasional di luar bahan bakar masih dapat ditekan di level 3,1%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan yang mencapai 13,2%.

Dari sisi pendapatan, penerbangan berjadwal masih menjadi kontributor utama. Pendapatan dari bisnis tersebut naik 12,6% atau US$ 233,2 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Adapun pendapatan penerbangan tidak berjadwal tumbuh 2,1% atau US$ 6,3 juta. Di luar bisnis penerbangan, pendapatan justru mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 31,3% menjadi US$ 322,8 juta.

Pertumbuhan bisnis non-penerbangan antara lain ditopang oleh kenaikan pendapatan pemeliharaan pesawat dari pelanggan eksternal GMF AeroAsia sebesar 42,4% serta pendapatan layanan agen perjalanan yang meningkat 76,1%.

Di sisi lain, Garuda Indonesia Group membukukan laba usaha sebesar US$ 97,2 juta hingga kuartal III 2026. Sementara itu, rugi periode berjalan secara konsolidasi menyusut 3% yoy menjadi US$ 179,3 juta.

Transformasi Garuda Indonesia juga tercermin dari pemulihan armada. Hingga September 2026, jumlah pesawat siap operasi Garuda Indonesia Group mencapai 106 unit, terdiri dari 64 pesawat Garuda Indonesia dan 42 pesawat Citilink.

Jumlah tersebut bertambah 24 pesawat dibandingkan 82 unit pada periode yang sama tahun lalu. Penambahan armada ikut mendorong jumlah penumpang Grup menjadi 16,7 juta orang, naik dari 15,6 juta penumpang pada sembilan bulan pertama 2025.

 

Frekuensi penerbangan juga meningkat 7,9% yoy menjadi 117.868 penerbangan.

Perbaikan operasional terlihat dari tingkat ketepatan waktu penerbangan atau on-time performance (OTP) yang mencapai 92,01%. Angka tersebut meningkat 5,86 poin persentase dari 86,15% pada periode yang sama tahun lalu.

Thomas mengatakan pemulihan armada akan terus diikuti dengan peningkatan produktivitas dan optimalisasi jaringan penerbangan.

"Penambahan kapasitas saja tidak cukup. Setiap pesawat perlu dioperasikan secara lebih produktif dan setiap rute harus dapat berkontribusi terhadap jaringan penerbangan yang semakin efisien," katanya.

Ke depan, Garuda Indonesia akan melanjutkan agenda transformasi dengan fokus pada peningkatan utilisasi armada, optimalisasi jaringan penerbangan, penguatan bisnis non-penerbangan, serta efisiensi biaya dan optimalisasi aset.

Perusahaan menilai langkah tersebut penting untuk menjaga pertumbuhan pendapatan sekaligus mendorong pemulihan profitabilitas secara bertahap.

"Fokus kami ke depan adalah menerjemahkan setiap kemajuan operasional dan penguatan bisnis menjadi kinerja keuangan yang semakin sehat," pungkas Thomas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×