Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lumosh Living mengembangkan inovasi material daur ulang untuk mendukung keberlanjutan industri keramik sekaligus mempertahankan keahlian para pengrajin. Langkah ini dilakukan dengan mengembangkan warisan PT Keramik Paolo Jaya, pabrik keramik yang telah beroperasi lebih dari 30 tahun.
Lumosh Living didirikan dengan semangat mengembangkan potensi pabrik yang selama ini memproduksi keramik terutama untuk pasar lokal. Sebagian produknya juga diekspor dalam skala terbatas melalui pihak ketiga.
Managemen Lumosh Living melihat peluang untuk mengembangkan pabrik tersebut dengan identitas merek sendiri. Selain kualitas produk, mereka menilai pengalaman para pengrajin yang telah bekerja selama bertahun-tahun menjadi aset penting bagi keberlangsungan bisnis.
“Tujuan kami bukan membangun sesuatu yang benar-benar baru, tetapi membantu pabrik dan para artisan di baliknya dikenal dengan nama mereka sendiri,” jelas Raymond Tjiadi CEO Lumosh Living dalam keterangannya dikutip Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: Kemenperin Kaji Ulang Tarif Antidumping Keramik China
Salah satu upaya pengembangan yang dilakukan Lumosh Living adalah mengolah kembali keramik yang telah dibakar untuk digunakan sebagai bagian dari material produksi. Setelah melalui proses eksperimen selama hampir satu tahun, perusahaan berhasil menemukan formula yang memungkinkan material daur ulang digunakan untuk menghasilkan produk keramik berkualitas.
Namun, pengembangan material tersebut masih menghadapi tantangan produksi. Sekitar 60% bahan baku yang digunakan masih berasal dari material alami, seperti tanah liat, yang kualitasnya tidak selalu konsisten. Penggunaan material daur ulang juga memengaruhi proses pembakaran sehingga meningkatkan kompleksitas produksi.
Selain tantangan material, perusahaan perlu menyesuaikan proses kerja dengan kemampuan dan pengalaman para pengrajin. Perubahan tersebut membutuhkan waktu, terutama karena sebagian pengrajin telah menggunakan metode kerja yang sama selama bertahun-tahun.
“Tantangan terbesar bukan hanya soal material, tetapi juga bagaimana membuat sistem yang benar-benar baru dapat berjalan secara konsisten, baik dari sisi bahan maupun orang-orang yang mengerjakannya,” tambah Raymond.
Baca Juga: Jaga Industri Keramik, Kemenperin Bakal Pastikan Pasokan Gas dan Perketat Impor
Di sisi lain, Lumosh Living menilai keberlangsungan tenaga kerja menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis. Sejumlah pengrajin telah bekerja di pabrik selama hampir 20 tahun. Pengalaman dan loyalitas mereka dinilai berperan dalam menjaga kualitas produk sekaligus mempertahankan pengetahuan produksi keramik yang semakin sulit ditemukan.
Perusahaan juga melihat industri keramik sebagai sumber penghidupan bagi para pekerja dan keluarga mereka. Salah satunya adalah seorang pengrajin yang tetap mendapat kesempatan bekerja setelah menjalani operasi glaukoma dan memasuki usia pensiun. Penghasilannya dari pabrik membantu menopang kebutuhan keluarga serta membiayai pendidikan putrinya hingga perguruan tinggi.
Ke depan, Lumosh Living berharap semakin banyak pelaku industri keramik beralih ke material yang lebih berkelanjutan. Perusahaan juga ingin menarik minat generasi muda agar industri keramik tetap memiliki tenaga kerja yang mampu meneruskan keahlian para pengrajin.
“Kami berharap semakin banyak orang melihat industri keramik sebagai industri yang punya masa depan, industri yang terus berinovasi sekaligus tetap membuka peluang bagi para artisan yang ada di baliknya,” tutup Raymond.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














