kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Geopolitik Memanas, Harga Energi Global Melonjak dan Tekan Negara Asia


Selasa, 12 Mei 2026 / 11:37 WIB
Geopolitik Memanas, Harga Energi Global Melonjak dan Tekan Negara Asia
ILUSTRASI. Harga gas (LNG) (REUTERS/Issei Kato)


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dinamika geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir membuat sektor energi tidak lagi sekadar menjadi isu komoditas, tetapi telah berubah menjadi bagian penting dari stabilitas ekonomi dan keamanan nasional suatu negara.

Konflik geopolitik, gangguan rantai pasok dan distribusi energi, hingga meningkatnya kebutuhan energi di kawasan Asia kini memberi tekanan besar terhadap pasar energi global.

Dampaknya, harga bahan bakar minyak (BBM), liquefied petroleum gas (LPG), hingga liquefied natural gas (LNG) mengalami kenaikan signifikan di banyak negara.

Baca Juga: IPCM Garap Peluang Hilirisasi dari Bisnis Kapal dan Terminal Khusus

Direktur Eksekutif Rofirminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, energi merupakan kebutuhan utama yang akan diprioritaskan saat terjadi krisis global.

“Energi itu kebutuhan. Kalau tidak ada energi maka tidak ada kehidupan. Saat ada krisis maka paling utama diselamatkan ada dua; pertama kebutuhan pangan dan kedua energi,” ujar Komaidi dalam keterangannya Selasa (12/5/2026).

Menurut dia, lonjakan harga energi global saat ini lebih banyak dipicu faktor non-fundamental, terutama akibat ketegangan geopolitik dan terganggunya jalur distribusi energi global seperti di Selat Hormuz.

“Ini yang menjadi perhatian pengguna dan konsumen sehingga harga minyak menjadi tinggi dari seharusnya,” katanya.

Kenaikan harga minyak dunia tersebut otomatis mendorong kenaikan harga energi lain, termasuk LPG dan LNG, karena harga kedua komoditas tersebut umumnya mengacu pada harga minyak mentah global.

Baca Juga: Pefindo Sematkan Peringkat id AA- untuk Hutama Karya, Prospek Stabil

“Harga LPG dan LNG diindekskan ke harga minyak mentah jadi dia pasti ikut naik,” jelasnya.

Di Indonesia, penyesuaian harga energi non subsidi mulai terlihat pada LPG industri 50 kilogram yang mengikuti kenaikan harga LPG global berbasis CP Aramco.

Harga LPG industri tercatat meningkat sekitar 25%–26%, dari sekitar US$ 21,9 per MMBtu menjadi sekitar US$ 28,3 per MMBtu.

Dalam rupiah, harga tabung LPG 50 kg naik dari kisaran Rp 850.000 menjadi sekitar Rp 1,068 juta per tabung pada Mei 2026.

Kenaikan juga terjadi pada solar industri non subsidi. Harga solar industri tercatat melonjak sekitar 77%–84%, dari sekitar US$ 22,7 per MMBtu menjadi sekitar US$ 43 per MMBtu pada Mei 2026.

Secara nominal, harga solar industri naik dari sekitar Rp 14.200–Rp 14.500 per liter menjadi sekitar Rp 26.000–Rp 27.900 per liter.

Baca Juga: Penjualan Mobil Astra International (ASII) Capai 41.752 Unit pada April 2026

Menurut Komaidi, volatilitas harga energi diperkirakan masih akan berlangsung sepanjang 2026, terutama apabila konflik global terus berlanjut dan distribusi energi dunia tetap terganggu.

“Faktor non-fundamental ini sulit diprediksi akan sampai kapan dan berakhirnya seperti apa,” imbuhnya.

Ia menilai penyesuaian harga energi sebenarnya sudah dilakukan oleh banyak negara, bukan hanya Indonesia.

Negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Filipina, dan Singapura juga telah menyesuaikan strategi energi mereka demi menjaga keberlanjutan pasokan domestik.

Vietnam kini semakin bergantung pada LNG dengan harga yang mengikuti pasar spot Asia.

Berdasarkan data PetroVietnam dan IEEFA 2026, harga gas di Vietnam mencapai sekitar US$ 27,81 per MMBtu.

Di Filipina, harga LNG tercatat sekitar US$ 28,50 per MMBtu berdasarkan data S&P Global dan Shell FGEN 2026.

Sementara Singapura sebagai pusat perdagangan LNG regional mencatat harga gas yang lebih tinggi.

Baca Juga: Shopee Gelontorkan Rp165 Miliar di 2025, Dongkrak Penjualan UMKM Lokal

Untuk sektor bulk industri, harga gas mencapai sekitar US$ 40,12 per MMBtu, sedangkan sektor retail umum mencapai sekitar US$ 47,54 per MMBtu.

Kondisi tersebut menunjukkan tren kenaikan harga energi terjadi secara luas di kawasan ASEAN, terutama di negara-negara yang semakin bergantung pada pasokan LNG dan dinamika pasar energi global.

Lonjakan harga juga tercermin pada indeks energi internasional seperti Japan Korea Marker (JKM) dan Japan Customs-Cleared Crude (JCC). Sepanjang 2026, indeks JCC tercatat naik sekitar 97%, sementara JKM melonjak hingga 111%.

Kenaikan tersebut turut mendorong Indonesian Crude Price (ICP) yang ditetapkan pemerintah berbasis JCC dan Brent.

Pada April 2026, ICP bahkan tercatat meningkat sekitar 99% dibandingkan asumsi awal tahun.

Baca Juga: Argo Manunggal Gandeng HIJAU Bangun PLTS di 4 Pabrik Tekstil

“Memang harga LNG akan dikaitkan dengan harga minyak mentah. Kalau harga minyak tinggi maka harga LNG juga tinggi. Ini terjadi secara global, bukan hanya di Indonesia saja,” ujar Komaidi.

Ia menambahkan, penyesuaian harga energi non subsidi seperti LNG perlu segera dilakukan agar ekosistem energi domestik tetap sehat dan mampu menopang kebutuhan industri maupun masyarakat dalam jangka panjang.

Menurutnya, kebijakan penyesuaian harga juga penting untuk menjaga fiskal negara sekaligus memastikan keberlanjutan sektor energi di tengah gejolak pasar global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×