kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Gernas Kakao tak wariskan lonjakan produksi


Minggu, 18 Februari 2018 / 13:47 WIB
ILUSTRASI. HARGA KAKAO


Reporter: Abdul Basith | Editor: Sofyan Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gerakan Nasional (Gernas) Kakao tidak wariskan lonjakan produksi kakao Indonesia. Padahal program tersebut sudah berjalan sejak tahun 2009 hingga 2012 sehingga semestinya telah masuk masa produktif tahun 2018.

"Secara teori tanaman kakao akan masuk masa produktif pada tahun ke 5 hingga tahun ke 7," ujar Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Zulhefi Sikumbang kepada Kontan.co.id, Minggu (18/2).

Pada pemerintahan sebelumnya diklaim Gernas Kakao telah dilakukan dengan anggaran hampir Rp 4 triliun. Gernas Kakao mencakup lahan sebesar 430.000 hektare (ha).

Target pemerintah hasil produksi Gernas Kakao sebesar 1 ton per ha per tahun. Zulhefi bilang, bila digabungkan dengan produksi keseluruhan Indonesia dapat mencapai angka 800.000 ton.

Namun, angka tersebut dinilai masih jauh dibandingkan dengan produksi tahun 2017. Tahun lalu, Zulhefi bilang produksi kakao Indonesia hanya sebesar 280.000 ton.

Meski diberhentikan pada tahun 2013, Zulhefi mempertanyakan hasil produksi kakao saat ini. Dihentikannya Gernas Kakao dinilai akibat banyaknya penolakan akibat pupuk dan bibit yang tidak tepat.

"Kegagalan Gernas Kakao akibat pupuk dan bibit yang tidak tepat sehingga banyak penolakan," terang Zulhefi.

Tidak maksimalnya Gernas Kakao juga diakui oleh Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Paska Panen, Kementerian Pertanian (Kemtan), Risfaheri. Risfaheri bilang Gernas Kakao diberhentikan akibat hasil yang tidak maksimal.

"Hasil Gernas Kakao tidak maksimal jadi dihentikan," jelas Risfaheri pekan lalu.

Selain itu Risfaheri juga menekankan bahwa saat ini Kemtan tengah menggenjot produksi bahan pangan. Hal tersebut untuk mencapai swasembada yang pada pemerintahan sebelumnya tidak tercapai.

Setelah target swasembada selesai, Risfaheri bilang pemerintah baru akan meningkatkan kualitas produksi. Hal itu untuk dapat menggapai bahan baku industri yang memiliki standar tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×