Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) menilai rencana relokasi sebagian produksi perusahaan komponen otomotif di Jawa Timur ke Vietnam menjadi alarm bagi daya saing industri otomotif nasional.
Sebelumnya, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyebutkan terdapat dua perusahaan raksasa komponen otomotif di Pasuruan dan Mojokerto yang akan melakukan pemindahan sebagian kegiatan produksi ke Vietnam.
Sekretaris Jenderal GIAMM Rachmad Basuki mengatakan, kedua perusahaan tersebut ialah perusahaan global yang sebelum memutuskan relokasi pastinya telah melakukan berbagai perhitungan.
Baca Juga: Sariguna Primatirta (CLEO) Sudah 100% Siap Hadapi Wajib SNI AMDK Oktober 2026
"Artinya kalau dia mau relokasi di Vietnam, pasti lebih banyak benefit jika dia di Vietnam daripada di Indonesia," katanya kepada Kontan, Senin (22/6/2026).
Dari sisi daya saing, Rachmad melihat Vietnam mulai menjadi negara yang semakin prospektif bagi industri otomotif. Ia mencontohkan, sebelumnya banyak perusahaan global elektronik, IT, hingga tekstil yang relokasi ke Vietnam. "Sekarang ada tanda-tanda ke arah sana untuk industri otomotif," imbuhnya.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi industri komponen otomotif nasional saat ini cukup kompleks, khususnya terkait dengan daya saing. Biaya energi, produktivitas tenaga kerja, hingga iklim usaha dinilai perlu lebih kondusif agar mampu bersaing dengan negara lain di kawasan.
Di tengah tekanan tersebut, Rachmad mengatakan pelaku industri saat ini berupaya menjaga utilisasi pabrik dan menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan mengandalkan pasar ekspor. Namun, strategi tersebut umumnya hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang telah memiliki jaringan global.
"Untuk menjaga kapasitas produksi dan tidak melakukan PHK, saat ini banyak yang mengandalkan ekspor. Itu pun terutama perusahaan yang punya jaringan global," ujarnya.
Sementara itu, Rachmad bilang perusahaan komponen otomotif lokal memilih melakukan diversifikasi usaha dengan memasok kebutuhan industri lain. Misalnya di sektor perkeretaapian, dirgantara, alat kesehatan, hingga terjun ke pasar suku cadang pengganti (replacement part) atau aftermarket.
Lebih lanjut, Rachmad menilai pemerintah perlu memberikan dukungan yang lebih konkret untuk meningkatkan daya saing industri otomotif nasional. Salah satunya melalui upaya mendorong permintaan pasar domestik.
Ia mencontohkan, pada masa pandemi Covid-19 pemerintah sempat memberikan insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) yang mampu mendongkrak penjualan kendaraan bermotor.
Menurutnya, stimulus serupa dapat kembali dipertimbangkan dengan tetap mensyaratkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang tinggi sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh industri komponen lokal.
"Di samping itu, diperlukan juga insentif bagi perusahaan yang berorientasi ekspor, serta mendukung iklim usaha yang bersaing seperti dengan harga energi yang murah dan kemudahan ketersediaan bahan baku," tandas Rachmad.
Baca Juga: Petani Sawit: Peran DSI Perlu Dievaluasi Ulang Demi Jaga Ekonomi Desa
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














