Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Besarnya pasar gim di Indonesia dinilai belum otomatis mencerminkan keberhasilan industri gim nasional.
Pelaku industri menilai pertumbuhan sektor ini seharusnya diukur dari kemampuan perusahaan lokal dalam menciptakan sekaligus menikmati nilai ekonomi dari pasar tersebut.
Acting Chief Marketing Officer Agate Vincentius Ismawan mengatakan, keberhasilan industri gim tidak hanya diukur dari besarnya belanja masyarakat terhadap gim.
Baca Juga: PDG Gandeng BUMD Bangun SPPBE di Sorong, Target Rampung September 2026
Yang lebih penting adalah seberapa besar nilai ekonomi dari pasar tersebut dapat diciptakan dan dinikmati oleh perusahaan serta talenta dalam negeri.
"Pada akhirnya, ukuran keberhasilan industri gim Indonesia bukan hanya seberapa besar masyarakat Indonesia membelanjakan uang untuk gim, tetapi seberapa besar nilai ekonomi dari pasar tersebut dapat diciptakan dan dimiliki oleh perusahaan serta talenta Indonesia," ujarnya kepada Kontan.cco.id, Kamis (6/8/2026).
Menurut Vincentius, salah satu cara untuk meningkatkan nilai ekonomi tersebut adalah dengan memperkuat kemampuan studio lokal dalam membangun intellectual property (IP) sendiri.
Dengan memiliki IP, perusahaan Indonesia tidak hanya berperan sebagai penyedia jasa pengembangan gim, tetapi juga dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari produk yang diciptakannya.
Namun, industri gim nasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari keterbatasan talenta berpengalaman, akses pendanaan yang belum memadai, hingga ketatnya persaingan untuk menarik perhatian pemain di pasar global.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Agate menerapkan strategi yang menyeimbangkan pengembangan produk sendiri melalui model business-to-consumer (B2C) dengan layanan pengembangan gim untuk perusahaan lain melalui skema business-to-business (B2B).
Baca Juga: Toyota Buka Peluang Adopsi Inovasi Pelajar untuk Operasional Perusahaan
Menurut Vincentius, kombinasi kedua model bisnis tersebut mampu menjaga keberlanjutan usaha sekaligus memberikan ruang bagi perusahaan untuk terus mengembangkan produk dan IP miliknya sendiri.
Selain strategi perusahaan, Vincentius menilai dukungan terhadap industri gim nasional juga perlu diperkuat melalui skema pendanaan yang sesuai dengan karakteristik bisnis gim, pengembangan talenta, serta perluasan akses ke pasar internasional melalui program business matching, promosi, dan kemitraan dengan publisher maupun investor global.
Menurutnya, langkah-langkah tersebut akan meningkatkan daya saing industri gim nasional sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar yang besar, tetapi juga menjadi pelaku yang mampu menciptakan dan menikmati nilai ekonomi yang lebih besar di industri gim global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
