Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG) menyiapkan mitigasi terhadap dampak perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Konflik ini menyulut eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, yang berdampak terhadap ekonomi dan rantai pasok industri secara global.
Sebagai emiten yang bergerak di industri pupuk dan produk agrokimia, DGWG turut mencermati perkembangan gejolak di Timur Tengah. Sebab, bahan baku untuk kebutuhan di industri pupuk dan kimia masih banyak dipenuhi secara impor.
Meski begitu, Danny Jo Putra sebagai Direktur Delta Giri Wacana menegaskan bahwa sejauh ini konflik di Timur Tengah tidak berdampak terhadap pasokan bahan baku DGWG. Sebab, bahan baku DGWG berasal dari negara yang tidak terdampak secara langsung krisis geopolitik dan blokade jalur logistik di Timur Tengah.
Baca Juga: Harga Minyak US$ 100 per Barel Bisa Dorong Beban Subsidi Energi hingga Rp 201 Triliun
Adapun, pasokan bahan baku DGWG didapat dari Asia Tenggara dan Asia Timur. "DGWG masih melihat perkembangan yang ada. Namun saat ini material impor kebanyakan berasal dari Asia yang tidak terdampak krisis di Timur Tengah, khususnya dampak gangguan rantai pasok akibat blokade jalur distribusi raw material," ungkap Danny kepada Kontan.co.id, Kamis (5/3/2026).
Di tengah gejolak di Timur Tengah, DGWG menyoroti fluktuasi harga nilai tukar. Hingga perdagangan Rabu (4/3) kemarin, kurs referensi Jisdor Bank Indonesia sudah kembali di atas level Rp 16.900, tepatnya di Rp 16.911 per dolar Amerika Serikat.
"Efek (gejolak Timur Tengah) sejauh ini hanya pada forex. Mitigasi masih dengan melakukan skema lindung nilai atau hedging," ujar Danny.
Sebagai informasi, DGWG bergerak di bidang produksi dan perdagangan pupuk premium NPK melalui anak usahanya, DGW Fertilizer. Sebelumnya, Manajemen DGWG mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 lalu Delta Giri Wacana mampu mencetak volume penjualan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan tersebut.
Sepanjang 2025, volume penjualan segmen pupuk DGWG tercatat sebesar 513.000 ton atau tumbuh sekitar 33% dibandingkan tahun 2024. Pada segmen pestisida, volume penjualan DGWG mencapai 18.000 ton atau tumbuh sekitar 27% dibandingkan tahun 2024.
Baca Juga: Kejar Cadangan Energi 90 Hari, RI Butuh Tambahan 112 Juta Barel BBM
Tidak hanya pada dua segmen usaha utama, pertumbuhan volume penjualan juga diikuti pada segmen usaha alat-alat pertanian, di mana volume penjualan sprayer meningkat sebesar 26% dan plastik mulsa tumbuh sebesar 9%.
Presiden Direktur Delta Giri Wacana, David Yaory menyampaikan bahwa pencapaian tersebut melebihi target penjualan yang sudah ditetapkan sebelumnya. David bilang, peningkatan kinerja tersebut merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor eksternal dan internal yang dikelola secara optimal oleh DGWG.
“Pertumbuhan penjualan Perseroan merupakan hasil dari kombinasi sejumlah faktor, mulai dari kondisi iklim yang relatif mendukung, optimalisasi pemanfaatan big data dalam aktivitas pemasaran sehingga dapat mengidentifikasi kebutuhan produk secara tepat waktu dan distribusi yang lebih tepat sasaran, hingga pengerahan sumber daya Perseroan secara efektif," ungkap David dalam rilis yang disiarkan pada bulan lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













