kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45956,07   -1,02   -0.11%
  • EMAS1.039.000 -0,95%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.03%

Hadapi Transisi Energi, Medco Energi (MEDC) Lincah Garap Bisnis di Luar Migas


Rabu, 26 Juli 2023 / 06:30 WIB
Hadapi Transisi Energi, Medco Energi (MEDC) Lincah Garap Bisnis di Luar Migas


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren transisi energi global mendorong perusahaan minyak dan gas bumi (migas) Tanah Air perlahan mengubah haluannya ke bisnis berkelanjutan. Salah satu perusahaan yang tengah lincah melakukan diversifikasi bisnis ialah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). 

Manuver bisnis ini sejatinya telah dilakukan MEDC sejak lama. Dimulai ketika Perusahaan migas ini menandatangani kontrak tunggal proyek pembangkit panas bumi di Sarulla, Sumatra Utara pada 2013.

Kemudian ekspansi MEDC di luar bisnis migas berlanjut pada 2016 ketika pihaknya mengakuisisi Amman Mineral Nusa Tenggara, perusahaan tambang tembaga dan emas. 

Kini, sulur bisnis non-migas Medco di sektor ketenagalistrik serta  pertambangan tembaga dan emas semakin diperkuat dengan berbagai agenda ekspansi. 

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Medco Energi (MEDC) Usai Anak Usahanya IPO

Misalnya saja di ketenagalistrikan, melalui anak usahanya PT Medco Power Indonesia, mengembangkan pembangkit listrik tenaga gas, geothermal, surya dan mini hidro. 

Setelah merampungkan proyek PLTGU Riau 275 MW dan PLTS Sumbawa 26MWp pada tahun 2022, Medco Energi melanjutkan pengembangan proyek geothermal 34 MW fase 1 di Blawan-Ijen, Jawa Timur dan pengembangan PLTS 2x25 MWp di Bali. 

Melalui agenda bisnis ini, MEDC menargetkan kapasitas terpasang dari energi terbarukan mencapai 26% di tahun 2025 dan 30% di tahun 2030. 

Adapun di bidang pertambangan tembaga dan emas, melalui Amman Mineral Nusa Tenggara, MEDC juga membangun bisnis yang berkelanjutan dengan mengonversi energi dari pembangkit listrik tenaga batubara 112 MW dan diesel 45 MW menjadi PLTGU berkapasitas 450 MW dengan terminal penyimpanan dan regasifikasi LNG di Teluk Benete. 

Kapasitas sebesar itu didukung PLTS Sumbawa 26 MWp akan dipakai untuk mendukung kegiatan pertambangan yang nantinya akan meningkat dengan dioperasikannya smelter dan perluasan pabrik konsentrator. 

Manager of Capital Market Medco Energi, Ridho Wahyudi menyatakan, upaya dan komitmen MEDC dalam membangun bisnis dengan pertumbuhan berkelanjutan, bertujuan untuk memberikan nilai dan imbal hasil jangka panjang bagi para pemegang saham dan juga berkontribusi terhadap pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.  

“Kami akan tetap fokus pada peningkatan ESG dengan target terukur sesuai strategi perubahan iklim kami dan memperluas portofolio energi terbarukan demi mencapai Net Zero Emissions untuk Cakupan 1 dan 2 pada 2050 dan Cakupan 3 pada 2060,” ujarnya dalam  the 47th Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition 2023 di ICE BSD, Selasa (25/7). 

Sebelumnya Direktur Utama Medco Energi Internasional, Hilmi Panigoro menyatakan, saat ini pihaknya juga sedang mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumbawa di mana proses yang berjalan saat ini ialah mengkaji kecepatan angin dengan monitor. 

Dalam catatan Kontan.co.id, proyek PLTB Medco ini mendapatkan dukungan dari Badan Perdagangan dan Pembangunan Amerika Serikat (USTDA) berupa hibah kepada Medco Power untuk studi kelayakan pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu berkapasitas 111-Megawatt (MW). 

Hilmi menyatakan, pengembangan sejumlah pembangkit hijau untuk menggantikan sumber energi fosil yang saat ini masih dimanfaatkan di area tambang Perusahaan, yakni di Amman Mineral. 

“Jadi nanti pada 2025 semua coal dan diesel sudah di-decommission sukarela dan digantikan gas plus energi terbarukan yakni matahari dan angin,” ujarnya dalam acara EBTKE ConEx 2023 beberapa waktu lalu. 

Baca Juga: Bos Medco Energi Borong 3,37 Juta Saham MEDC, Segini Nilainya

Menurutnya biaya operasional pemanfaatan energi hijau relatif tidak lebih mahal dibandingkan energi fosil. Hilmi bilang, investasi atau belanja modal yang disiapkan di awal memang terlihat besar, tetapi secara jangka panjang sumber energi yang dimanfaatkan berkelanjutan akan lebih efisien. 

Dia mencontohkan, investasi turbin angin memang besar, tetapi angin sebagai sumber energi didapatkan gratis. 

“Jadi mungkin capex tinggi dulu setelah beberapa tahun akan turun jauh sekali dan dalam jangka panjang bisa berjalan,” terangnya.

Hingga kuartal I 2023 porsi pendapatan dari sektor listrik meningkat signifikan hingga 258% year on year (yoy) menjadi US$ 111,21 juta dari sebelumnya US$ 31,28 juta di kuartal I 2022. 

Adaptif Hadapi Perubahan

Pendiri Reforminer Institute, Pri Agung Rakhmanto menilai, perusahaan migas seperti halnya Medco Energi pada dasarnya tidak beralih ke bisnis energi baru terbarukan (EBT), tetapi adaptif terhadap perubahan tren energi hijau. 

“Medco justru ekspansif ke sektor mineral dan EBT tanpa meninggalkan core business-nya,” ujar Pri Agung saat dihubungi terpisah. 

Di sisi hulu migas, pada Maret 2022 Medco Energi mengakuisisi aset ConocoPhillips di Indonesia, yang terdiri dari 54% hak partisipasi PSC Corridor di Sumatra Selatan dan 35% hak partisipasi pada Transasia Pipeline Company Pvt. Ltd. 

Produksi Corridor berkontribusi sebesar 70,2 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD) pada 2022 dengan tingkat efisiensi operasi langsung sebesar 99,6%. 

Tidak hanya itu, MEDC juga melanjutkan proyek-proyek utama yakni lapangan Forel dan Bronang di PSC South Natuna Sea Block B, lapangan Suban di PSC Corridor dan pengembangan fase 2 PSC Senoro-Toili. 

Pengembangan-pengembangan baru tersebut juga didukung dengan perpanjangan kontrak jual beli gas di Blok Natuna dan Blok Corridor yang memperpanjang umur cadangan (reserve life) dan keberlanjutan dari blok-blok tersebut.

Baca Juga: Medco Energi (MEDC) Akan Manfaatkan Gas untuk Base Load Listrik Operasinal Bisnis

Di tiga bulan pertama tahun ini, MEDC mengalokasikan belanja modal senilai US$ 47 juta untuk pengembangan proyek baru di PSC Corridor dan South Natuna Sea Block B.

“Medco memang punya fundamental yang bagus untuk melakukan itu baik dari sisi teknikal maupun finansialnya,” ujar Pri Agung. 

Melalui staregi ini, Pri Agung menilai, sulur bisnis non-migas akan menopang kinerja korporasi MEDC secara keseluruhan. Di hulu migas, Medco terus tumbuh seiring meningkatnya konsumsi energi. Lalu di segmen lain yakni EBT dan mineral, bisnis Medco Energi akan sejalan dengan target transisi energi dan program hilirisasi. 

“Jadi, menurut saya upaya yang dilakukan Medco ini justru akan makin memperkuat dan mendiversivikasi risiko juga,” tandasnya. 

Analis Henan Putihrai Sekuritas, Ezaridho Ibnutama menyatakan prospek saham MEDC baik untuk dikoleksi jangka panjang maupun jangka pendek. 

“Pada jangka pendek ini saham MEDC ditopang naiknya harga minyak dunia yang beberapa bulan ini sudah sesuai dengan kemauan OPEC+,” ujarnya. 

Sedangkan prospek saham MEDC dalam jangka panjang akan didukung dari diversifikasi bisnis yang sudah mulai dilakukan saat ini yakni mengakuisisi tambang tembaga dan emas serta menggarap bisnis listrik hijau. 

Ezaridho menjelaskan, selama ini kebanyakan orang mengatakan MEDC mulai fokus ke EBT, namun jika dilihat lebih dalam, Medco semakin fokus menggali bisnis tambang mineralnya. 

Penilaian Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat agak berbeda. Dia tidak begitu yakin prospek saham MEDC bisa serta-merta didorong oleh aksi diversifikasi bisnis yang dilakukan saat ini.

Pasalnya, beberapa aksi korporasi besar yang dilakukan Medco Energi dibiayai dari utang baik itu pinjaman bank maupun obligasi. Oleh karenanya, kinerja Medco secara umum masih cukup diberatkan kewajibannya membayar utang berikut bunganya. 

“Setelah Medco mengakuisisi Amman Mineral beberapa tahun lalu, hingga sampai hari ini hasilnya belum begitu kelihatan. Jadi kinerja Medco masih ditopang bisnis migasnya,” ujarnya. 

Adapun ekspansi Medco Energi ke bisnis setrum hijau juga dinilai Teguh harus dilihat dalam jangka panjang. Salah satu yang harus dicermati, apakah bisnisnya tersebut memberikan pemasukan signifikan bagi Medco. 

“Bisa dikatakan bisnis EBT ini masih baru, belum banyak perusahaan yang terbukti profit. Jadi harus lihat prospek ke depannya,” terangnya. 

Meski demikian, Teguh tetap melihat prospek saham Medco cukup menarik secara jangka pendek jika harga komoditas minyak mentah dan gas meningkat signifikan. 

“Menariknya beli saham Medco ketika siklus harga komoditas booming lagi,” kata Teguh. 

Melansir RTI, harga saham Medco Energi Internasional pada Selasa (25/7) ditutup menguat 8,00% ke Rp 1.080 per saham. Dalam sebulan belakangan saham MEDC terus menunjukan tren positif di mana naik 16,13%. 

Begitu juga dengan tren saham MEDC dalam setahun ini menguat hingga 70,08% 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×