kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

Literasi Konsumen Rendah, Industri Herbal Lokal Hadapi Tantangan Kepercayaan Pasar


Selasa, 10 Februari 2026 / 19:58 WIB
Literasi Konsumen Rendah, Industri Herbal Lokal Hadapi Tantangan Kepercayaan Pasar
ILUSTRASI. Rempah atau Herbal Cina dengan Khasiat Istimewa (dok./https://www.pexels.com/Cup of Couple) Minat masyarakat terhadap produk herbal terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, seiring pergeseran gaya hidup.


Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat masyarakat terhadap produk herbal terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, seiring pergeseran gaya hidup ke arah pendekatan kesehatan yang lebih alami dan preventif. Namun, di tengah pertumbuhan permintaan tersebut, industri herbal lokal masih menghadapi persoalan struktural berupa rendahnya literasi konsumen.

Data Profil Statistik Kesehatan 2025 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat meningkatnya penggunaan produk kesehatan non-medis dalam aktivitas perawatan sehari-hari. Meski demikian, pemahaman konsumen terkait klasifikasi produk, fungsi, serta batasan penggunaan herbal dinilai masih terbatas.

Kondisi ini menempatkan industri herbal pada posisi yang paradoks. Di satu sisi, pasar tumbuh. Di sisi lain, ekspektasi konsumen kerap tidak sejalan dengan karakter produk herbal yang bersifat pendukung dan membutuhkan penggunaan jangka panjang, bukan solusi instan.

Baca Juga: Meninjau Skema Aturan Baru LPG 3 Kg

“Masih banyak masyarakat yang menyamakan produk herbal dengan obat medis. Ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi, yang disalahkan bukan pemahamannya, tetapi produknya,” ujar Fazli Hasniel Sugiharto di Jakarta, Selasa (10/2).

Fazli Hasniel yang akrab disapa Arniel, putra almarhumah Lilies Susanti Handayani peracik Kutus Kutus, menilai rendahnya literasi konsumen turut memengaruhi pola persaingan di pasar. Produk dengan klaim berlebihan dinilai lebih cepat menarik perhatian dibandingkan produk yang menekankan edukasi dan penggunaan rasional.

Akibatnya, persaingan tidak selalu ditentukan oleh kualitas dan konsistensi, melainkan oleh persepsi jangka pendek. Situasi ini diperparah dengan maraknya produk herbal tanpa informasi memadai di pasaran, sehingga konsumen kesulitan membedakan produk yang aman, terdaftar, dan digunakan secara tepat.

Arniel yang telah berkecimpung di industri herbal lebih dari 15 tahun menilai kondisi tersebut berisiko merugikan dua pihak sekaligus. Konsumen berpotensi salah kaprah, sementara pelaku usaha yang menjaga standar kualitas harus bekerja lebih keras membangun kepercayaan publik.

“Industri herbal yang sehat membutuhkan konsumen yang teredukasi. Tanpa itu, pasar akan terus didominasi oleh narasi instan yang tidak berkelanjutan,” ujarnya.

Bagi pelaku industri herbal lokal, isu literasi konsumen bukan sekadar persoalan komunikasi, melainkan tantangan strategis jangka panjang. Edukasi membutuhkan waktu dan konsistensi, serta tidak selalu berdampak langsung pada penjualan. Namun, tanpa edukasi, pertumbuhan pasar dinilai berisiko rapuh.

Arniel menegaskan, produk herbal seharusnya dipahami sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan perawatan pendukung, bukan sebagai pengganti pengobatan medis. Ketidaksesuaian ekspektasi sejak awal berpotensi merusak hubungan antara produk dan konsumen.

Kepercayaan publik menjadi faktor krusial dalam industri herbal. Berbeda dengan produk medis yang memiliki jalur pembuktian klinis ketat, produk herbal sangat bergantung pada transparansi produsen dan informasi yang disampaikan kepada konsumen.

Dalam konteks tersebut, peran media dan regulator dinilai strategis untuk memperkuat literasi. Pemberitaan yang proporsional dapat membantu masyarakat memahami konteks penggunaan herbal secara lebih utuh. 

Di sisi lain, pengawasan terhadap klaim produk dan transparansi informasi menjadi kunci untuk melindungi konsumen sekaligus menjaga iklim persaingan yang sehat.

Baca Juga: Skandal Lahan Transmigran di Kalsel, Kementerian ESDM Bekukan Izin Sebuku Sejaka Coal

Selanjutnya: CEO DBS Ingatkan Investor Bersiap Hadapi Volatilitas Pasar pada 2026

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Rabu 11 Februari 2026, Aktif Berbagai Ide

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×