kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   40.000   1,41%
  • USD/IDR 17.163   -11,00   -0,06%
  • IDX 7.559   -34,73   -0,46%
  • KOMPAS100 1.040   -10,36   -0,99%
  • LQ45 744   -12,17   -1,61%
  • ISSI 273   -1,59   -0,58%
  • IDX30 401   -0,83   -0,21%
  • IDXHIDIV20 487   -2,68   -0,55%
  • IDX80 116   -1,41   -1,20%
  • IDXV30 139   0,63   0,45%
  • IDXQ30 128   -0,94   -0,72%

Harga Beras & Gula Terancam Kenaikan Akibat Biaya Kemasan Plastik, Ini Kata Penguasa


Selasa, 21 April 2026 / 20:21 WIB
Harga Beras & Gula Terancam Kenaikan Akibat Biaya Kemasan Plastik, Ini Kata Penguasa
ILUSTRASI. Ancaman kenaikan harga beras dan gula akibat biaya kemasan plastik kian nyata


Reporter: Zendy Pradana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperingatkan adanya potensi kenaikan harga beras dan gula akibat lonjakan dari mahalnya harga plastik. Mahalnya harga plastik saat ini dipastikan juga akan berdampak pada biaya kemasan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Gula Indonesia (AGI), Dwi Purnomo mengatakan bahwa para pengusaha atau industri harus terus meningkatkan produktivitas dan efisiensi agar harga pokok produksi bisa menurun.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan industri gula yakni membuat program bongkar ratoon atau proses peremajaan tanaman tebu dan bekerja sama dengan pemerintah RI. Sehingga bisa meningkatkan kualitas tebu per hektare dan mendapatkan hasil yang lebih baik.

Baca Juga: Proyek Pelabuhan Patimban Paket 6 Garapan WIKA Capai Progres 85,25%

"Juga bantuan pupuk bersubsidi, kredit bunga rendah (KUR) dan penguatan riset untuk mendapatkan varietas unggul akan dapat membantu praktek budi daya tanaman tebu lebih baik," ujar Dwi Purnomo kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).

Kemudian, Dwi menuturkan jika dilihat dari sisi pabrik, sejumlah pabrik gula saat ini sudah melakukan revitalisasi dengan cara ekspansi hingga upaya merger atau akuisisi. 

Salah satu contohnya ialah merger PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dengan unit bisnis gula PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

Di sisi lain, industri gula juga sudah ada yang melakukan inovasi dengan menggunakan bahan lain untuk kemasan. Namun, upaya tersebut masih dalam tahap uji coba.

"Kalau hanya mengurangi karung plastik bisa saja pakai packing jumbo misalnya 500 kg, tapi harus banyak penyesuaian di supply chain termasuk regulasi," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa berbuat lebih jika ada kenaikan pada harga jual produk beras dan gula.

Baca Juga: Industri Plastik Tertekan Gejolak Global, FLAIPHI Beberkan Strategi Bertahan

Solihin menyebutkan bahwa Aprindo hanya menjual harga produk sesuai dengan HET yang sudah ada.

"Kalau Aprindo hanya bisa mengimbau bahwa barang yang kita jual itu ya sesuai dengan segmen daripada konsumennya dan konsumen bisa membeli," ujar Solihin.

Solihin menekankan bahwa para pengusaha atau industri juga tidak akan tinggal diam dalam menyikapi mahalnya harga bahan kemasan.

"Nah, tapi yang sekarang ini mencari solusi pasti produsen enggak tinggal diam gitu loh. Kita lihat aja saja nanti seperti apa," ungkapnya.

Diketahui, Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan, kenaikan harga plastik mulai dirasakan pelaku usaha pangan dan berpotensi diteruskan ke konsumen.

“Kalau kenaikan bahan baku plastik signifikan, dampaknya ke beras bisa sekitar Rp 360 per kilogram. Sementara gula berkisar Rp 100 sampai Rp 190 per kilogram,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (21/4/2026).

Baca Juga: Industri Plastik Tertekan Gejolak Global, FLAIPHI Beberkan Strategi Bertahan

Menurutnya, komponen kemasan yang selama ini dianggap pelengkap justru menjadi sumber tekanan baru di tengah upaya menjaga stabilitas harga pangan.

Industri beras dan gula masih sangat bergantung pada kemasan plastik untuk distribusi dan menjaga kualitas produk.

Ketut menambahkan, kenaikan harga plastik dipicu dinamika global, terutama lonjakan harga minyak serta gangguan pasokan bahan baku. Kondisi ini meningkatkan biaya produksi dan berisiko mendorong kenaikan harga jual.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×