Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKAI) menilai harga biji kakao kering di tingkat petani saat ini sudah berada pada level yang normal, setelah mengalami koreksi.
Ketua APKAI Arief Zamroni mengatakan, pada akhir 2025 kondisi industri kakao mulai bergerak ke arah yang lebih stabil. Seiring dengan itu, harga biji kakao kering juga telah terkoreksi dan kini berada di kisaran Rp 50.000 per kilogram di tingkat petani.
“Harga kakao sekarang sudah lebih rasional dan bisa dijadikan patokan. Kondisi produksi juga mulai berangsur normal,” ujar Arief kepada Kontan, (5/1/2026).
Baca Juga: Nilai Ekspor Kakao Meningkat 57,1% pada 2025, Begini Prospeknya Tahun Ini
Menurutnya, harga yang terlalu tinggi tidak dapat dijadikan acuan jangka panjang. Oleh karena itu, koreksi harga dinilai penting agar ekosistem kakao tetap berjalan seimbang, baik di sisi petani maupun industri.
Arief bilang, ia pun telah memprediksi terjadinya penurunan Harga Referensi (HR) dan Harga Patokan Ekspor (HPE) pada Januari 2026 ini. "Sudah saya prediksi, dan sudah terasa di tingkat petani," imbuhnya.
Sebagai informasi, Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan, HR biji kakao periode Januari 2026 ditetapkan sebesar US$ 5.662,38/metrik ton (MT), turun sebesar 5,27% dari bulan sebelumnya.
Akibatnya, terjadi penurunan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao pada Januari 2026 ke level US$ 5.296/MT, turun 5,49% dari bulan Desember 2025.
Baca Juga: Harga Referensi dan Harga Patokan Ekspor Biji Kakao Turun 6% pada Desember 2025
Arief menambahkan, petani kakao masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kondisi cuaca pada awal 2026 ini yang belum sepenuhnya stabil.
"Rehabilitasi kebun, tanaman kakao yang sudah tua, serta keterbatasan sumber daya manusia yang sekarang sudah berusia tua, juga masih menjadi tantangan petani," imbuhnya.
Ke depan, pada 2026 ini, APKAI berharap program pengembangan kakao melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dapat berjalan lebih cepat dan menjangkau wilayah yang lebih luas.
Baca Juga: Pemerintah Akan Remajakan Perkebunan Kakao 248.500 Hektare, Target Rampung 2027
Saat ini, lanjut Arief, pelaksanaan program rehabilitasi dan ekstensifikasi dinilai masih relatif terpusat di wilayah tertentu. "Namun, untuk tahun 2026 ini, produksi kakao ke depan cukup menjanjikan," tandas Arief.
Selanjutnya: Deretan Film dan Serial Yang Bakal Tayang di Netflix Tahun Ini
Menarik Dibaca: Deretan Film dan Serial Yang Bakal Tayang di Netflix Tahun Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













