kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.515.000   27.000   1,09%
  • USD/IDR 16.760   20,00   0,12%
  • IDX 8.859   111,06   1,27%
  • KOMPAS100 1.218   13,00   1,08%
  • LQ45 860   7,77   0,91%
  • ISSI 321   6,07   1,93%
  • IDX30 442   3,55   0,81%
  • IDXHIDIV20 516   4,55   0,89%
  • IDX80 135   1,55   1,16%
  • IDXV30 142   1,46   1,04%
  • IDXQ30 142   1,34   0,96%

Nilai Ekspor Kakao Meningkat 57,1% pada 2025, Begini Prospeknya Tahun Ini


Minggu, 04 Januari 2026 / 19:17 WIB
Nilai Ekspor Kakao Meningkat 57,1% pada 2025, Begini Prospeknya Tahun Ini
ILUSTRASI. Asosiasi Industri Apresiasi Pemerintah Tingkatkan Produktivitas Kakao (Dok/Kemenperin)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) melaporkan nilai ekspor kakao pada Januari-Oktober 2025 tercatat sebesar US$ 3,11 miliar, naik 57,1% dari US$ 1,98 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Ketua Umum Dekaindo, Soetanto Abdullah mengatakan bahwa peningkatan harga menjadi pemicu naiknya nilai ekspor, baik untuk produk biji, pasta, lemak, bubuk, maupun cokelat.

"Memang, terjadi peningkatan harga pada semua jenis produk," katanya saat dihubungi Kontan, Minggu (4/1/2026).

Sementara itu, secara volume, jumlah ekspor kakao pada periode tersebut tercatat lebih dari 287,5 juta kilogram (kg), naik dari 284,4 juta kg pada periode yang sama tahun 2024.

Baca Juga: Harga Referensi dan Harga Patokan Ekspor Biji Kakao Turun 6% pada Desember 2025

Menurut Soetanto, tak ada perbedaan permintaan yang signifikan berdasarkan volume ekspor tahun 2025.

Pada 2026, lanjutnya, kebutuhan utama industri ialah bahan baku biji kakao yang masih belum mencukupi dan perlu impor.

Hal tersebut juga masih menjadi tantangan bagi industri kakao. Tantangan lainnya, kata Soetanto, termasuk persyaratan food safety yang makin ketat di negara tujuan ekspor.

"Selain itu, perlu persiapan kondisi di dalam negeri menjelang diberlakukannya European Union Deforestation-Free Regulation (EUDR) pada akhir tahun 2026," imbuhnya.

Oleh karenanya, Soetanto merekomendasikan pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan kakao untuk membantu petani agar dapat memenuhi regulasi EUDR yang akan diberlakukan ke depan.

Baca Juga: Ekspor Kakao Nasional Tumbuh Signifikan, Ini Faktor Pendorongnya

Lebih lanjut, Soetanto juga menilai melemahnya Harga Patokan Ekspor (HPE) produk kakao pada awal tahun ini akan memengaruhi nilai ekspor.

"Penurunan HPE akan berdampak menurunkan nilai ekspor," katanya.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Tommy Andana melaporkan,  harga referensi (HR) biji kakao periode Januari 2026 ditetapkan sebesar US$ 5.662,38/metrik ton (MT), turun sebesar US$ 315,08 atau 5,27% dari bulan sebelumnya. 

Hal ini berdampak pada penurunan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao pada Januari 2026 ke level US$ 5.296/MT, turun US$ 308 atau 5,49% dari periode sebelumnya.

Tommy bilang, penurunan HR dan HPE biji kakao dipengaruhi oleh peningkatan suplai biji kakao, seiring naiknya produksi di negara produsen utama di wilayah Afrika Barat.

"Hal itu disebabkan membaiknya cuaca yang tidak diikuti oleh peningkatan permintaan,” imbuh Tommy.

Baca Juga: Pemerintah Akan Remajakan Perkebunan Kakao 248.500 Hektare, Target Rampung 2027

Selanjutnya: Ketegangan AS-Venezuela Jadi Sentimen Pergerakan DXY, Seberapa Dalam Dampaknya?

Menarik Dibaca: Sulit Fokus Bisa Jadi Anda Terkena Popcorn Brain

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×