kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.548   18,00   0,10%
  • IDX 6.740   -118,47   -1,73%
  • KOMPAS100 897   -18,26   -1,99%
  • LQ45 660   -9,88   -1,47%
  • ISSI 244   -4,14   -1,67%
  • IDX30 373   -4,35   -1,15%
  • IDXHIDIV20 456   -5,60   -1,21%
  • IDX80 102   -1,76   -1,69%
  • IDXV30 130   -1,86   -1,41%
  • IDXQ30 119   -1,13   -0,94%

Harga kedelai diproyeksi naik Rp 1.000 per kg


Rabu, 23 April 2014 / 21:45 WIB
ILUSTRASI. Sederet Gejala Awal Stroke di Usia Muda yang Harus Diketahui


Reporter: Handoyo | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Himpunan Perajin Tahu Indonesia (Hipertindo) memproyeksikan tren kenaikan harga kedelai tidak dapat dihindarkan lagi setiap tahunnya. "Rata-rata kenaikan harga kedelai dipasar internasional bisa mencapai Rp 500 per kg-Rp 1.000 per kg," kata Johanda Fadil Sekretaris Jenderal Hipertindo, Rabu (23/4).

Bahkan, pada bulan Juli mendatang Johanda memproyeksikan harga kedelai akan melambung tinggi hingga menembus Rp 10.000 per kg. Menurutnya, kenaikan harga tersebut disebabkan karena pembaruan kontrak pembelian yang terjadi setiap bulan Juni.

Sekedar gambaran saja, kebutuhan kedelai untuk pengrajin tempe dan tahu setiap bulannya mencapai 132.000 ton, atau 1,6 juta per tahun. Dengan perhitungan impor yang mampu direalisasikan pada tahun ini tersebut, maka Gakoptindo hanya menguasai kurang dari 2% dari kebutuhan kedelai bagi pengrajin tempe dan tahu.

Sebelumnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor kedelai, produksi perlu didorong dengan cara memberikan insentif melalui kebijakan harga di tingkat petani. Dengan begitu, para petani akan terdorong untuk menanam kedelai sehingga produksi kedelai diharapkan akan ada peningkatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×