kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.888.000   -5.000   -0,17%
  • USD/IDR 17.157   0,00   0,00%
  • IDX 7.617   -6,47   -0,08%
  • KOMPAS100 1.053   -3,46   -0,33%
  • LQ45 758   -1,74   -0,23%
  • ISSI 277   -0,74   -0,27%
  • IDX30 404   0,74   0,18%
  • IDXHIDIV20 490   0,44   0,09%
  • IDX80 118   -0,37   -0,32%
  • IDXV30 138   0,24   0,17%
  • IDXQ30 129   0,20   0,16%

Harga Material Bangunan Berpotensi Melonjak, Pengembang Properti Wait and See


Selasa, 07 April 2026 / 15:44 WIB
Harga Material Bangunan Berpotensi Melonjak, Pengembang Properti Wait and See
ILUSTRASI. Pengembang properti memantau harga material bangunan imbas perang Timur Tengah. Daya beli lemah, namun ada batas developer menanggung biaya (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengembang properti tengah memantau pergerakan harga material bangunan, terutama semen dan besi, imbas perang Timur Tengah.

Sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan terdapat potensi lonjakan harga semen dan besi akibat gangguan rantai pasok global, yang dipicu ketegangan geopolitik.

Wakil Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Bambang Ekajaya bilang, saat ini pengembang properti bersikap wait and see terhadap potensi kenaikan harga material yang dapat berdampak ke sektor properti.

Baca Juga: Harga Semen dan Besi Berpotensi Naik, Begini Dampaknya Bagi Industri Properti

Menurutnya, setidaknya hingga saat ini, para pengembang tak mengerek harga jual mengingat daya beli yang masih lemah. "Sepanjang kenaikan biaya konstruksi masih kecil, tentu developer yang harus menanggung," jelas Bambang kepada Kontan, Selasa (7/4/2026).

Namun demikian, jika ada perubahan kebijakan terkait harga bahan bakar minyak (BBM), tentunya penyesuaian harga properti, kata Bambang, perlu dilakukan. Sebab, pergerakan biaya transportasi atau logistik sangat memengaruhi harga material bangunan.

REI turut mengapresiasi kemampuan pemerintah menahan harga BBM subsidi hingga saat ini. Kendati begitu, Bambang mencermati bahwa ruang fiskal pemerintah pun terbatas. Oleh karenanya, menurut dia, solusi terbaik tak lain ialah berakhirnya perang Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran.

Baca Juga: Harga Ayam Hidup Anjlok Usai Lebaran, Peternak Rugi Rp2.000/Kg

"Jadi, kalau perang berkepanjangan dan tidak ada solusi terkait harga BBM, pasti kita sebagai developer juga harus menaikkan harga walaupun pasar sedang tidak baik-baik saja," imbuhnya.

Bambang menambahkan, biaya material bangunan untuk landed house (rumah tapak) bisa mencapai 20%–30% dari harga jual properti. Sementara itu, biaya material dapat berkontribusi 50%–60% terhadap harga properti gedung tinggi (high-rise building).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×