kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.105   75,00   0,42%
  • IDX 5.875   1,52   0,03%
  • KOMPAS100 765   2,00   0,26%
  • LQ45 584   0,67   0,11%
  • ISSI 203   0,57   0,28%
  • IDX30 329   -1,14   -0,34%
  • IDXHIDIV20 408   -2,60   -0,63%
  • IDX80 87   0,09   0,10%
  • IDXV30 111   -0,27   -0,24%
  • IDXQ30 106   -0,51   -0,47%

Harga Ayam Hidup Anjlok Usai Lebaran, Peternak Rugi Rp2.000/Kg


Selasa, 07 April 2026 / 15:09 WIB
Harga Ayam Hidup Anjlok Usai Lebaran, Peternak Rugi Rp2.000/Kg
ILUSTRASI. Harga ayam hidup kini Rp18.000/kg, peternak rugi Rp2.000 per kilo pasca Lebaran. Cari tahu penyebab dan dampaknya pada produksi Anda. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga ayam hidup (live bird/LB) kembali tertekan pasca Lebaran 2026. Kondisi ini membuat peternak merugi akibat kelebihan pasokan dan lemahnya serapan pasar.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) Jawa Timur, Kholiq, mengatakan harga ayam hidup saat ini berada di kisaran Rp18.000 per kilogram, di bawah biaya produksi peternak.

“HPP peternak broiler Jatim rata-rata di Rp20.000, harga LB saat ini Rp18.000, kerugian peternak Rp2.000/kg,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (7/4/2026).

Ia menambahkan, tekanan harga ini mendorong peternak melakukan berbagai penyesuaian untuk menekan kerugian. Salah satunya dengan mengurangi jumlah produksi.

Baca Juga: Pemerintah Godok Formula Harga BBM Non-Subsidi, Libatkan SPBU Swasta

“Untuk mengurangi kerugian, peternak mengurangi chick in dan panen ayam berbobot kecil,” jelasnya.

Dari sisi pelaku usaha, Kholiq menilai langkah cepat pemerintah diperlukan untuk menstabilkan harga di tingkat peternak. Ia menyebut salah satu opsi adalah mendorong penjualan ayam minimal sesuai harga pokok produksi (HPP).

“Pemerintah segera mengimbau minggu depan agar pelaku usaha besar wajib menjual ayam minimal di harga HPP yaitu Rp20.000. Selain itu, pelaku usaha besar disarankan panen berbobot kecil dan melakukan chick in sesuai kebutuhan pasar masing-masing supaya tidak menghancurkan harga di pasar lainnya,” katanya.

Kholiq menilai tanpa intervensi yang tepat, tekanan harga berpotensi berlanjut dan memperdalam kerugian peternak, terutama di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih pasca Lebaran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×