kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.028.000   16.000   0,53%
  • USD/IDR 16.824   -81,00   -0,48%
  • IDX 8.384   112,28   1,36%
  • KOMPAS100 1.180   15,84   1,36%
  • LQ45 845   9,68   1,16%
  • ISSI 299   4,14   1,40%
  • IDX30 443   6,23   1,43%
  • IDXHIDIV20 527   5,07   0,97%
  • IDX80 131   1,59   1,23%
  • IDXV30 144   0,80   0,56%
  • IDXQ30 142   1,70   1,21%

Harga Pangan Stabil, Ini 3 Kunci Utama Redam Inflasi Tahunan


Senin, 23 Februari 2026 / 11:26 WIB
Harga Pangan Stabil, Ini 3 Kunci Utama Redam Inflasi Tahunan
ILUSTRASI. Angkutan barang dilarang melintas saat arus mudik Lebaran 2026 (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lonjakan harga bahan kebutuhan pokok jelang Ramadan dan Idul Fitri kembali menjadi pekerjaan rumah tahunan. Permintaan yang meningkat pada komoditas volatile food hampir selalu memicu tekanan inflasi pangan, sementara persoalan distribusi belum sepenuhnya dibenahi.

Pelaku usaha logistik menilai, stabilisasi harga tidak cukup mengandalkan operasi pasar atau koordinasi jangka pendek antarpemerintah daerah. Masalah utama dinilai berada pada struktur rantai pasok yang belum efisien dan terintegrasi.

Ketua Dewan Pembina DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) sekaligus Senior Vice President Fédération Internationale des Associations de Transitaires et Assimilés (FIATA) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, stabilitas harga pangan musiman memerlukan pendekatan yang lebih mendasar. Menurut dia, koordinasi pusat dan daerah memang membantu meredam gejolak sesaat, tetapi tidak menyelesaikan akar persoalan.

"Penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah merupakan langkah penting yang sudah dilakukan sebagai bagian intervensi jangka pendek dalam meredam volatilitas harga bahan pokok," kata Yukki dalam siaran pers yang diterima Kontan, Senin (23/2).

Baca Juga: Krisis Batubara ke PLTU Mulai Terjadi, Waspada Listrik Nasional Bisa Padam!

Secara makro, harga yang stabil memberi kepastian usaha dan menjaga daya beli. Namun di lapangan, volatilitas kerap dipicu disrupsi arus perdagangan, ketimpangan pasokan antarwilayah, kemacetan transportasi dan pelabuhan, serta minimnya keterbukaan data rantai pasok.

Artinya, pengendalian inflasi pangan berkaitan langsung dengan biaya logistik, kinerja pelabuhan, dan tata kelola perdagangan. Tanpa pembenahan sektor logistik, pola lonjakan harga berulang tiap musim berisiko terus terjadi.

Untuk itu, Yukki menambahkan, ALFI mengusulkan tiga agenda reformasi. Pertama, memperkuat konektivitas domestik dan efisiensi pelabuhan agar distribusi antarpulau lebih cepat dan terukur. Kedua, integrasi data produksi, stok, distribusi, dan harga secara real time untuk mencegah kelangkaan dan spekulasi. Ketiga, memperjelas koordinasi kebijakan antara pemerintah dan pelaku usaha logistik, termasuk operator pelabuhan dan distributor.

Sebagai negara kepulauan, ketergantungan pada distribusi laut membuat kelemahan logistik cepat berdampak pada harga. Tanpa reformasi struktural, stabilitas harga bahan pokok berpotensi tetap rapuh setiap kali permintaan meningkat pada periode hari besar keagamaan.

Baca Juga: Krisis Batubara ke PLTU Mulai Terjadi, Waspada Listrik Nasional Bisa Padam!

Selanjutnya: Promo Payday Starbucks & Chatime Tebar Diskon Spesial hingga Bundling Hemat

Menarik Dibaca: Promo Payday Starbucks & Chatime Tebar Diskon Spesial hingga Bundling Hemat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×