kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.803.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.757   18,00   0,10%
  • IDX 6.206   44,30   0,72%
  • KOMPAS100 820   7,74   0,95%
  • LQ45 631   10,77   1,74%
  • ISSI 218   -0,22   -0,10%
  • IDX30 360   5,73   1,62%
  • IDXHIDIV20 447   9,71   2,22%
  • IDX80 95   0,97   1,04%
  • IDXV30 123   1,72   1,42%
  • IDXQ30 117   2,17   1,90%

Apindo Soroti Mulainya Relokasi Industri di Tengah Gelombang PHK


Senin, 25 Mei 2026 / 18:56 WIB
Apindo Soroti Mulainya Relokasi Industri di Tengah Gelombang PHK
ILUSTRASI. Kinerja Positif Industri Manufaktur Indonesia (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai meningkatnya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur menjadi sinyal melemahnya daya saing investasi industri Indonesia di kawasan regional.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam mengatakan sejumlah perusahaan asing mulai melakukan konsolidasi operasi dengan memusatkan produksi di negara yang dinilai lebih kompetitif dari sisi biaya dan regulasi.

“Perusahaan-perusahaan itu melakukan konsolidasi secara regional dan global untuk lebih efisien lagi,” ujar Bob Azam kepada KONTAN, Senin (26/5/2026).

Menurut dia, tren tersebut terlihat dari mulai terjadinya divestasi di sejumlah perusahaan manufaktur berorientasi ekspor yang sebelumnya menyerap banyak tenaga kerja di Indonesia.

Padahal, perusahaan jenis tersebut selama ini dianggap sebagai investasi berkualitas karena mampu mendorong ekspor sekaligus membuka lapangan kerja dalam jumlah besar.

“Ini perusahaan-perusahaan yang sebenarnya memenuhi banyak harapan kita, terutama penyerapan tenaga kerja dan ekspor,” katanya.

Baca Juga: APINDO: Satgas Deregulasi Harus Benahi Ketidakpastian Kebijakan

Apindo menilai kondisi industri manufaktur saat ini tertekan oleh kombinasi pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, suku bunga tinggi, dan lonjakan harga bahan baku impor.

Bob menyebut bahan baku impor bahkan dapat menyumbang lebih dari 50% total biaya produksi industri manufaktur.

Selain itu, pelaku usaha juga menghadapi persoalan cash flow akibat restitusi yang tertahan dan pembatasan kuota bahan baku impor.

“Nah itu juga menambah kesulitan cashflow bagi mereka,” ujarnya.

Menurut Apindo, tekanan biaya tersebut membuat Indonesia mulai kalah bersaing dibanding negara lain dalam perebutan basis produksi regional.

Perusahaan multinasional disebut cenderung memilih negara dengan tarif pajak lebih kompetitif, bunga pinjaman lebih rendah, serta biaya tenaga kerja yang dinilai lebih efisien.

Karena itu, Apindo meminta pemerintah segera mempercepat deregulasi untuk menjaga iklim investasi industri manufaktur.

Bob mengingatkan proses deindustrialisasi di Indonesia telah berlangsung cukup lama yang tercermin dari penurunan kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB).

Baca Juga: Apindo Ingatkan Penyerapan Tenaga Kerja Lebih Penting dari Sekadar Angka PHK

“Dulu kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB sekitar 30%, sekarang tinggal 19%,” katanya.

Selain deregulasi, Apindo juga mendorong peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui program pelatihan industri yang lebih terarah.

Menurut Bob, rendahnya produktivitas membuat biaya tenaga kerja Indonesia secara riil menjadi lebih mahal dibanding negara pesaing meskipun nominal upah relatif kompetitif.

Apindo memperkirakan tekanan terhadap industri manufaktur dan ancaman PHK masih berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, khususnya pada sektor yang bergantung pada bahan baku impor dan energi tinggi.

Baca Juga: PHK dan Biaya Produksi Manufaktur Naik, Bahaya Investasi Asing Keluar dari Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×