kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.959   -71,00   -0,39%
  • IDX 5.902   155,73   2,71%
  • KOMPAS100 783   23,11   3,04%
  • LQ45 589   20,16   3,54%
  • ISSI 202   4,81   2,44%
  • IDX30 335   12,48   3,87%
  • IDXHIDIV20 413   15,31   3,84%
  • IDX80 88   2,33   2,70%
  • IDXV30 111   2,33   2,15%
  • IDXQ30 108   3,73   3,59%

Harga Pertamax Melonjak, Pengguna Mulai Beralih ke Pertalite


Rabu, 10 Juni 2026 / 20:48 WIB
Harga Pertamax Melonjak, Pengguna Mulai Beralih ke Pertalite
ILUSTRASI. Harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax naik (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga BBM Non-subsidi Pertamax Series melesat pada hari Rabu 10 Juni 2026. Pemerintah resmi mengerek harga Pertamax dari sebelumnya Rp 12.300/liter menjadi Rp 16.250/liter dan Pertamax Green dari Rp 12.900/liter menjadi Rp 17.000/liter.

Kenaikan ini menimbulkan dampak yang cukup signifikan bagi para pengguna BBM RON 92 dan RON 95 yakni adanya pergeseran alias shifting ke BBM Subsidi Pertalite yang sampai hari ini masih dibanderol sebesar Rp 10.000/liter.

Berdasarkan pantauan Kontan.co.id, di SPBU milik Pertamina dibilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2026) pukul 18.30 WIB, antrian untuk pengisian BBM jenis Pertalite tampak lebih mengular ketimbang Pertamax. Sementara untuk Pertamax Green tertuliskan pasokan sedang dalam perjalanan.

Baca Juga: Menkop Tegaskan Pembentukan Kopdes Merah Putih Bukan untuk Menggusur Ritel Modern

Meski demikian, seorang karyawan SPBU mengaku antrian pengisian antara Pertamax dan Pertalite masih terlihat normal.

"(Antrian Pertamax berkurang?) Masih sama saja sejauh ini," kata karyawan SPBU saat dikonfirmasi Kontan.co.id.

Sementara itu, Pengguna BBM Pertamax, Alif menuturkan bahwa kenaikan harga ini dinilai cukup mendadak. Menurutnya, kenaikan ini sebenarnya tidak bisa dipungkiri di tengah situasi global.

"Cukup kaget sih, karena kenaikannya lumayan tiba-tiba tanpa ada sosialisasi terlebih dahulu walau sebenarnya kenaikan bbm expected di tengah situasi global saat ini," katanya.

Alif menilia, kenaikan harga yang tembus hampir Rp 4.000/liter ini, cukup membebani pengeluarannya. Untuk itu, dia berharap agar pemerintah bisa memberikan solusi bagi pengguna BBM RON 92.

"Kalau dilihat dari lonjakan harganya naik lebih 30% cukup membebani ya mas, apalagi mobilitas setiap hari, belum lagi kalau macet artinya penggunaan bahan bakar kan akan lebih besar. Bagi kelas menengah seperti saya ini kelihatannya lumayan mencekik. Semoga pemerintah bisa segera mengkaji ulang," pungkasnya. 

Baca Juga: KPPI Hentikan Penyelidikan Perpanjangan Kedua BMTP Produk Evaporator

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×