kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.147   50,00   0,28%
  • IDX 5.373   -66,16   -1,22%
  • KOMPAS100 696   -6,74   -0,96%
  • LQ45 542   -4,89   -0,89%
  • ISSI 183   -3,13   -1,68%
  • IDX30 304   -2,05   -0,67%
  • IDXHIDIV20 401   -1,94   -0,48%
  • IDX80 80   -0,68   -0,84%
  • IDXV30 111   -0,79   -0,70%
  • IDXQ30 101   -0,36   -0,35%

Stimulus Bea Masuk 0% Dinilai Belum Cukup Dongkrak Investasi Industri


Minggu, 26 Juli 2026 / 14:20 WIB
Stimulus Bea Masuk 0% Dinilai Belum Cukup Dongkrak Investasi Industri
ILUSTRASI. ModernCikande Industrial Estate (Dok/ModernCikande Industrial Estate )


Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai, insentif tarif Bea Masuk 0% atas impor barang tertentu belum cukup kuat untuk mendorong ekspansi investasi industri pada tahun ini.

Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan, dunia usaha masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perlambatan ekonomi global, suku bunga tinggi di berbagai negara, hingga volatilitas harga energi dan nilai tukar.

“Saat ini dunia usaha masih menghadapi ketidakpastian. Dalam situasi tersebut, insentif tarif saja belum cukup menjadi alasan utama untuk membangun fasilitas produksi baru,” ujar Bhima kepada KONTAN, Minggu (26/7/2026).

Menurut Bhima, pada semester II-2026 dampak kebijakan tersebut lebih berpotensi meningkatkan utilisasi kapasitas produksi yang sudah ada, dibandingkan memicu investasi berskala besar.

Baca Juga: Bea Masuk 0% LPG Buka Peluang Utilisasi Industri Plastik Tembus 90%

Ia juga menilai manfaat kebijakan bagi industri petrokimia berpotensi bersifat sementara. Sebab, penurunan biaya impor LPG dinilai belum menyelesaikan persoalan ketergantungan industri terhadap bahan baku impor.

“Penurunan biaya bahan baku LPG cuma temporer. Ada gas lock-in yang membuat ketergantungan pada LPG impor terus berlangsung,” jelasnya.

Selain itu, ketergantungan tersebut dinilai dapat memperlambat upaya dekarbonisasi sektor petrokimia sehingga berpotensi menyulitkan industri menembus pasar ekspor yang menerapkan standar rendah karbon.

Bhima mendorong pemerintah melakukan evaluasi berkala terhadap efektivitas kebijakan tersebut. Menurutnya, keberhasilan insentif perlu diukur melalui peningkatan utilisasi industri, ekspor, investasi, hingga penciptaan lapangan kerja.

“Tanpa indikator kinerja yang jelas, insentif berisiko hanya menjadi pengurangan penerimaan negara tanpa menghasilkan efek ekonomi yang diharapkan,” tutupnya.

Baca Juga: CELIOS: Bea Masuk 0% Untungkan Industri MRO, Efek ke Petrokimia Masih Terbatas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×