kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   30.000   1,05%
  • USD/IDR 17.157   13,00   0,08%
  • IDX 7.624   -52,36   -0,68%
  • KOMPAS100 1.056   -6,56   -0,62%
  • LQ45 760   -4,37   -0,57%
  • ISSI 277   0,16   0,06%
  • IDX30 404   -2,51   -0,62%
  • IDXHIDIV20 489   -2,28   -0,46%
  • IDX80 118   -0,60   -0,51%
  • IDXV30 138   1,46   1,07%
  • IDXQ30 129   -0,80   -0,62%

Harga Plastik Naik hingga 80%, Inaplas Sebut Pasar Masuk Fase “Ganti Harga”


Rabu, 15 April 2026 / 17:17 WIB
Harga Plastik Naik hingga 80%, Inaplas Sebut Pasar Masuk Fase “Ganti Harga”
ILUSTRASI. Harga bahan baku plastik naik 80% dalam waktu singkat. Pasokan 70% impor dari Timur Tengah terganggu. Mengapa lonjakan ini tak terhindarkan? (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga plastik semakin sulit dibendung. Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyebut pasar kini memasuki fase baru, yakni “ganti harga”, setelah kenaikan harga bahan baku menembus hingga 80% dalam waktu singkat.

Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, mengungkapkan bahwa kenaikan harga dipicu oleh gangguan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.

“Harga bahan baku plastik yang sebelumnya sekitar US$1.000 per metrik ton, kini sudah naik hingga US$1.800. Artinya kenaikannya hampir 80%,” kata Fajar dalam keterangannya yang diterima Kontan, Rabu (15/4/2026).

Kenaikan harga bahan baku tersebut langsung berdampak ke sektor hilir. Harga produk plastik jadi kini naik di kisaran 40% hingga 80%, termasuk produk kemasan yang banyak digunakan pelaku usaha kecil dan menengah.

Baca Juga: Permintaan Program MBG Melonjak, Rantai Pasok Sayuran Nasional Mulai Tertekan

Menurut Fajar, dampak lonjakan harga plastik mulai dirasakan luas oleh masyarakat. Pedagang makanan dan pelaku UMKM mengeluhkan kenaikan harga kemasan plastik yang cukup signifikan.

Kondisi ini sebelumnya belum terlalu terlihat karena bertepatan dengan momentum Ramadan dan Lebaran. Selama periode tersebut, pelaku industri lebih fokus menjaga kelancaran distribusi barang sehingga kenaikan harga global belum sepenuhnya diteruskan ke pasar domestik.

“Selama hampir 20 hari kita fokus distribusi Lebaran. Begitu pasar kembali normal, harga langsung melonjak dan pelaku usaha kaget,” jelasnya.

Selain kenaikan harga, persoalan pasokan bahan baku juga menjadi tantangan serius bagi industri plastik nasional. Sekitar 70% bahan baku plastik di Indonesia masih bergantung pada impor dari kawasan Timur Tengah.

Gangguan distribusi akibat konflik menyebabkan pasokan tersendat hingga hampir satu bulan. Kondisi tersebut memaksa industri mengandalkan stok yang tersedia sambil mencari sumber impor alternatif.

Salah satu opsi yang mulai ditempuh adalah mengalihkan impor bahan baku dari Amerika Serikat. Namun, langkah ini membuat waktu pengiriman menjadi lebih lama dan biaya logistik ikut meningkat.

Baca Juga: Bidik Investasi Global, Himpunan Kawasan Industri Indonesia Buka Kantor di China

“Sekarang yang penting ada suplai dulu. Harga nanti akan menyesuaikan,” kata Fajar.

Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri mulai melakukan berbagai langkah efisiensi untuk menahan lonjakan biaya produksi. Upaya yang dilakukan antara lain mengurangi ketebalan produk, menambah bahan campuran, hingga meningkatkan penggunaan plastik daur ulang.

Meski demikian, Inaplas menilai tekanan terhadap harga plastik belum akan mereda dalam waktu dekat. Harga bahan baku maupun produk plastik diperkirakan masih akan berfluktuasi sebelum menemukan titik keseimbangan baru.

“Ini bukan sekadar kenaikan harga, melainkan sudah masuk fase ganti harga. Cepat atau lambat pasar akan menyesuaikan di level baru,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×