kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.000   -49,00   -0,29%
  • IDX 7.184   136,22   1,93%
  • KOMPAS100 993   21,00   2,16%
  • LQ45 727   10,98   1,53%
  • ISSI 257   5,98   2,38%
  • IDX30 393   4,71   1,21%
  • IDXHIDIV20 487   -0,17   -0,03%
  • IDX80 112   2,02   1,84%
  • IDXV30 135   -0,77   -0,57%
  • IDXQ30 128   1,38   1,08%

Harga Solar Industri B40 Naik, Pengamat: Beban Usaha Bisa Bengkak Rp 76,5 Triliun


Rabu, 01 April 2026 / 17:28 WIB
Harga Solar Industri B40 Naik, Pengamat: Beban Usaha Bisa Bengkak Rp 76,5 Triliun
ILUSTRASI. Bahan bakar B40 (Dok/KPI)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kabar kenaikan harga solar industri B40 sebesar Rp 5.100 per liter menjadi Rp 28.150 per liter dinilai bakal memberikan tekanan bagi sektor riil. Kenaikan yang cukup signifikan ini diprediksi akan mengerek biaya operasional hingga menekan daya beli masyarakat lewat transmisi inflasi.

Manajer Riset dan Peneliti Sekretaris Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Seknas FITRA), Baidul Hadi menilai, jika kabar kenaikan tersebut benar terjadi, hal itu menunjukkan tekanan biaya energi di sektor non subsidi yang mulai mendekati harga keekonomian. Dampak finansialnya pun tidak main-main bagi pelaku usaha.

"Jika diasumsikan konsumsi solar industri mencapai ±15 juta kiloliter (KL) per tahun, maka tambahan beban biaya yang ditanggung pelaku usaha bisa mencapai sekitar Rp 76,5 triliun. Ini bukan angka kecil, dan akan langsung terasa terutama pada sektor logistik, manufaktur, dan pertambangan yang sangat bergantung pada BBM jenis ini," ujarnya kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).

Baca Juga: Kementerian PKP Ngebut Bangun Rusun di Senen & Tanah Abang, Target Rampung Juni 2026

Dari sisi kinerja bisnis, Baidul memproyeksi kenaikan ini berpotensi menekan margin usaha karena biaya operasional bisa meningkat 10% hingga 20% pada sektor-sektor intensif energi. Dalam jangka pendek, para pelaku usaha kemungkinan besar akan mengambil langkah cost pass-through ke harga barang dan jasa.

"Dengan struktur biaya logistik yang menyumbang sekitar 20%–30% harga akhir barang, maka kenaikan solar ini berpotensi mendorong inflasi tambahan di kisaran 0,3%–0,6%, terutama pada komoditas pangan dan distribusi antar wilayah. Artinya, dampaknya tidak hanya berhenti di pelaku usaha, tetapi juga merambat ke daya beli masyarakat," urainya.

Guna meredam efek domino tersebut, Baidul menyarankan pemerintah melakukan langkah antisipasi melalui dua jalur. Pertama, menjaga stabilitas dengan memperkuat bantalan fiskal secara lebih terarah, misalnya melalui subsidi transportasi publik atau insentif sektor logistik strategis, dengan estimasi kebutuhan sekitar Rp 10 triliun hingga Rp 20 triliun untuk meredam dampak awal.

Langkah kedua, lanjut Baidul, adalah mempercepat efisiensi dan diversifikasi energi, termasuk optimalisasi biodiesel B40 agar benar-benar menekan ketergantungan impor. 

"Tanpa langkah ini, kenaikan harga solar industri berisiko menjadi pemicu inflasi lanjutan sekaligus menekan pemulihan ekonomi domestik," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×