kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   -50.000   -1,72%
  • USD/IDR 17.084   45,00   0,26%
  • IDX 7.275   -3,94   -0,05%
  • KOMPAS100 1.006   -0,68   -0,07%
  • LQ45 733   -0,32   -0,04%
  • ISSI 262   1,43   0,55%
  • IDX30 394   -4,84   -1,21%
  • IDXHIDIV20 481   -6,53   -1,34%
  • IDX80 113   0,03   0,02%
  • IDXV30 133   -1,38   -1,02%
  • IDXQ30 127   -1,73   -1,34%

Harga Solar Naik, Periklindo: Penambang Bergeser ke Truk Listrik


Kamis, 09 April 2026 / 08:48 WIB
Harga Solar Naik, Periklindo: Penambang Bergeser ke Truk Listrik
ILUSTRASI. Truk listrik


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergeseran penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) mulai terjadi di sektor pertambangan dan logistik. Kenaikan harga serta keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, menjadi pemicu utama perubahan tersebut.

Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik (Periklindo) Moeldoko mengungkapkan, para pelaku usaha tambang kini mulai beralih menggunakan kendaraan listrik, termasuk truk tambang berbasis EV.

Menurutnya, terdapat perubahan pola pikir di kalangan pelaku industri tambang yang sebelumnya sangat bergantung pada BBM.

“Para miners ini mulai bergeser menggunakan EV trucks. Kenapa demikian? Karena salah satu alasannya solar di daerah cukup sulit (dicari), harganya mahal, dan kualitasnya biasanya kurang baik sehingga mempengaruhi maintenance mobil itu,” ujarnya dalam Focus Group Discussion di Menara Kompas, Rabu (8/4/2026).

Baca Juga: Batas Waktu Mandat Biofuel Ditetapkan, Pengguna Biodiesel Beralih ke B50 pada 2028

Ia menambahkan, tren serupa juga mulai terlihat di sektor logistik. Dengan tingginya mobilitas dan meningkatnya harga BBM, banyak perusahaan logistik mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik untuk efisiensi biaya operasional.

Sebelumnya, dalam catatan Kontan, Direktur PT Zubay Mining Indonesia Muhammad Emil menyebutkan harga solar industri berbasis B40 di Kendari mengalami kenaikan signifikan.

Per 6 April 2026, harga solar industri tercatat naik menjadi sekitar Rp 23.000 per liter dari sebelumnya Rp 21.250 per liter. Selain itu, pasokan solar di wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara juga mulai terbatas akibat penahanan stok menjelang potensi kenaikan harga.

Kenaikan harga dan keterbatasan pasokan ini berdampak langsung terhadap biaya produksi, terutama di sektor tambang nikel yang sangat bergantung pada BBM. Sejumlah pelaku usaha bahkan mulai meminta dukungan dari pihak smelter untuk menutup lonjakan biaya operasional tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×