kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.738.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Harga tanah di Makassar tembus Rp 25 juta m2


Senin, 20 Juni 2016 / 16:17 WIB


Sumber: Kompas.com | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Tidak seperti daerah-daerah lainnya yang kerap menimbulkan konflik, pembebasan lahan di Makassar, Sulawesi Selatan, tidak mengalami kesulitan yang berarti.

Namun, pembebasan lahan justru tersandung masalah harga kian melangit pasca banyaknya pemain properti Nasional masuk kawasan ini.

"Pusat kota sudah tidak ada yang murah, Makassar sudah jadi metropolitan, harga tanah luar biasa tinggi. Bisa mencapai Rp 25 juta per meter persegi," ujar Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Sulawesi Selatan, Muhammad Arief Mone kepada Kompas.com, Minggu (19/6/2016).

Meski demikian, di wilayah-wilayah tertentu harga lahannya bervariasi. Penentuan harga ini bergantung pada lokasi, dan akses yang dapat ditempuh.

Semakin dekat dengan pusat kota, harga lahan semakin tinggi. Arief menyebutkan, radius 4 kilometer dari pusat kota harga tanah mencapai Rp 7 juta-Rp 10 juta.

Sementara untuk radius  6-7 kilometer, harga tanah dibanderol Rp 2 jutaan. Untuk harga tersebut, biasanya rumah yang dibangun adalah untuk menengah ke atas.

Pasalnya, untuk membangun rumah menengah ke bawah, sudah tidak feasible  karena harga tanahnya terlalu mahal.

"Pengembang biasanya membangun rumah menengah di atas lahan dengan harga serentang Rp 100.000-Rp 1 juta. Harga ini baru ada di radius 10 kilometeran atau 20 kilometer dari pusat kota," tutur Arief.

Ia menambahkan untuk lokasi perumahan dengan radius 15-20 kilometer, aksesnya masih terhitung cukup baik. Namun, untuk transportasi massal belum tersedia.

Hal ini menjadi masalah jika masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang membeli rumah di lokasi tersebut.

Meski harga rumah masih rendah, tapi karena terlalu jauh dari pusat kota, pengeluaran untuk transportasi juga menjadi lebih tinggi. (Penulis: Arimbi Ramadhiani)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×