kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   11.000   0,41%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Hilirisasi mineral penting, ekspor tetap dibuka


Rabu, 01 Maret 2017 / 16:59 WIB


Reporter: Febrina Ratna Iskana, Febrina Ratna Iskana | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Pemerintah terus berupaya meningkatkan hilirisasi mineral. Caranya dengan mendorong pelaku industri membangun smelter atau pemurnian di dalam negeri.

Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono mengatakan, saat ini baru ada 22 smelter di Indonesia dan hanya 10 smelter saja yang beroperasi. Sisanya sebanyak 12 smelter masih dalam tahap penyelesaian.

Pemerintah pun berharap perusahaan tambang bisa membangun smelter-smelter baru dengan cara saling bekerja sama antar perusahaan tambang. Pasalnya investasi untuk membangun smelter tidaklah murah.

"Kalau smelter dibangun sendiri kurang menarik tapi kalau dikaitkan dengan produk tambang bisa subsidi silang. Industrinya bukan di smelter tapi di industri hilirnya. Intinya industri hilir itu tujuannya bukan smelter untuk bahan baku," ujar Bambang, Rabu (1/3).

Tetapi di sisi lain, pemerintah juga masih membuka ekspor bijih mineral. Biarpun begitu, Bambang bilang ekspor mineral dibuka agar perusahaan tambang bisa membangun smelter.

"Kami menyampaikan bahwa kebijakan ekspor itu terukur dan yang utama adalah dalam rangka memberikan kesempatan untuk perusahaan yang serius mengembangkan hilirisasi," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×