kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -20.000   -0,77%
  • USD/IDR 17.909   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.926   -10,17   -0,17%
  • KOMPAS100 765   -0,18   -0,02%
  • LQ45 589   -1,71   -0,29%
  • ISSI 206   -0,73   -0,35%
  • IDX30 328   -1,45   -0,44%
  • IDXHIDIV20 422   -0,98   -0,23%
  • IDX80 87   -0,08   -0,10%
  • IDXV30 116   -0,04   -0,04%
  • IDXQ30 108   -0,46   -0,42%

ICP September Tembus US$ 112, Dana Talangan BBM Pertamina Berisiko Membengkak


Selasa, 13 Oktober 2026 / 15:21 WIB
ICP September Tembus US$ 112, Dana Talangan BBM Pertamina Berisiko Membengkak
ILUSTRASI. BBM Non subsidi (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dinilai berpotensi menambah tekanan pembiayaan bahan bakar minyak (BBM) yang ditanggung Pertamina.

Sebagai informasi, pemerintah menetapkan ICP September 2026 sebesar US$ 112,81 per barel, naik dari US$ 89,43 per barel pada Agustus 2026. Dengan begitu, rata-rata harga minyak mentah Indonesia meningkat sekitar 26% dalam sebulan.

Praktisi minyak dan gas bumi (migas) Hadi Ismoyo menilai, kenaikan harga minyak mentah dapat memperlebar selisih antara harga keekonomian BBM dan harga jualnya.

Jika harga jual tidak mengikuti kenaikan biaya keekonomian, Pertamina berpotensi menghadapi tekanan pembiayaan.

Baca Juga: Konsumsi Pertalite Naik Hingga 20%, Pertamina Antisipasi Pasokan BBM di Bondowoso

Untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax, Hadi memperkirakan harga keekonomiannya mencapai Rp 19.300 per liter dengan asumsi kurs Rp 17.800 per dolar AS.

Sementara itu, harga jual Pertamax yang ia gunakan sebagai acuan saat ini sebesar Rp 15.950 per liter. Dus, terdapat selisih sekitar Rp 3.350 per liter antara harga keekonomian dan harga jual.

"Jika harga minyak mentah bertahan di kisaran US$ 112 per barel hingga akhir tahun, harga keekonomian Pertamax berada di sekitar Rp 19.300 per liter," kata Hadi kepada Kontan, Selasa (13/10/2026).

Di luar Pertamax, Hadi juga memperkirakan besarnya selisih harga keekonomian dan harga jual BBM yang harganya diatur pemerintah. Perhitungan ini digunakan untuk menggambarkan potensi kebutuhan dana talangan Pertamina secara lebih luas.

Hadi memperkirakan rata-rata harga minyak mentah sepanjang 2026 berada di kisaran US$ 100 per barel. Dengan asumsi kurs Rp 17.800 per dolar AS dan yield sekitar 0,7, ia menghitung harga keekonomian rata-rata BBM mencapai Rp 16.000 per liter.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Tambah Pasokan BBM & Siagakan SPBU Jelang MotoGP Mandalika 2026

Sebagai pembanding, harga jual Solar ditetapkan Rp 6.800 per liter, sedangkan Pertalite Rp 10.000 per liter. Jika kedua harga tersebut dirata-ratakan, nilainya sekitar Rp 8.400 per liter.

Berdasarkan perhitungan tersebut, Hadi memperkirakan terdapat selisih sekitar Rp 7.600 per liter antara harga keekonomian rata-rata BBM dan rata-rata harga jual Solar serta Pertalite.

Jika selisih harga tersebut dikalikan dengan volume subsidi sebesar 48 juta kiloliter (KL), ia memperkirakan potensi dana talangan Pertamina mencapai sekitar Rp 369 triliun sepanjang tahun ini.

"Pertamina nombok Rp 7.700 per liter. Jika dikalikan dengan volume 48 juta KL maka Pertamina akan menyiapkan dana talangan sekitar Rp 369 triliun selama 2026," kata Hadi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×