kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

IDPRO Minta Daya Dukung Air Jadi Pertimbangan Data Center Jatiluhur


Minggu, 04 Oktober 2026 / 15:07 WIB
IDPRO Minta Daya Dukung Air Jadi Pertimbangan Data Center Jatiluhur
ILUSTRASI. Kebut Ekspansi Kampus Data Center, Digital Edge Targetkan CGK1 Beroperasi Kuartal IV-2026 (Dok/Digital Edge )


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pembangunan data center berbasis artificial intelligence (AI) di Jatiluhur, Jawa Barat, masih menghadapi perhatian dari sisi kebutuhan air. Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO) menilai kapasitas sumber daya air perlu menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pengembangan data center berskala besar.

Ketua Umum IDPRO, Hendra Suryakusuma mengatakan, proyeksi kebutuhan air data center di Jatiluhur yang mencapai sekitar 33.000 meter kubik (m³) per hari pada tahap pengembangan penuh perlu dikaji berdasarkan neraca air secara menyeluruh.

Menurutnya, kebutuhan air tidak bisa langsung dinilai aman atau tidak hanya dari besaran volumenya. Kajian perlu melihat sumber air, konsumsi bersih, potensi penggunaan kembali serta ketersediaan air pada musim kemarau.

"Yang lebih penting adalah melihat neraca air secara keseluruhan, dari mana sumber air berasal, berapa konsumsi bersihnya, berapa air yang dapat digunakan kembali, bagaimana proyeksi ketersediaan pada musim kemarau, serta bagaimana kebutuhan tersebut berinteraksi dengan kebutuhan masyarakat, pertanian, dan sektor lainnya," kata Hendra kepada Kontan, Minggu (3/10/2026).

Hendra menambahkan, Waduk Jatiluhur memiliki fungsi strategis yang lebih luas, termasuk untuk kebutuhan masyarakat dan irigasi pertanian. Karena itu, kebutuhan dasar masyarakat dan ketahanan pangan harus tetap menjadi prioritas dalam pengembangan proyek data center.

Baca Juga: IDPRO Dorong Kajian Neraca Air untuk Data Center Jatiluhur

Ia menyebut angka kebutuhan sekitar 33.000 m³ per hari merupakan proyeksi pada tahap pengembangan penuh. Sementara itu, kebutuhan pada tahap awal disebut lebih rendah.

Dengan kondisi tersebut, IDPRO menilai keputusan mengenai daya dukung air perlu mengacu pada kajian hidrologi dan neraca air yang memperhitungkan kondisi normal maupun skenario kemarau ekstrem.

Di sisi lain, IDPRO menilai konsumsi air data center masih dapat ditekan melalui penggunaan teknologi pendinginan yang lebih efisien. Hal ini menjadi semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan data center untuk komputasi AI dengan kepadatan daya tinggi.

Hendra mengatakan, teknologi data center saat ini tidak selalu membutuhkan konsumsi air yang tinggi. Sejumlah teknologi seperti closed-loop cooling, direct-to-chip liquid cooling, dry cooling dan hybrid cooling dapat digunakan untuk mengurangi kebutuhan air dalam proses pendinginan.

"Data center modern, khususnya yang melayani komputasi AI dengan kepadatan daya tinggi, tidak harus identik dengan konsumsi air yang tinggi," ujarnya.

Menurut Hendra, pemilihan teknologi pendinginan harus disesuaikan dengan kondisi lokasi. Teknologi yang sesuai untuk wilayah dengan ketersediaan air tinggi belum tentu tepat digunakan di wilayah yang menghadapi tekanan terhadap sumber daya air.

Karena itu, IDPRO mendorong penggunaan indikator Water Usage Effectiveness (WUE) sebagai salah satu parameter pembangunan data center, selain Power Usage Effectiveness (PUE).

Baca Juga: Data Center Marak di Jatiluhur, Air untuk Irigasi dan Pasokan ke Jakarta Terancam

Hendra mengatakan, WUE telah digunakan sebagai indikator untuk mengukur intensitas penggunaan air pada data center. IDPRO juga telah memasukkan aspek tersebut dalam Green Data Center White Paper yang diterbitkan pada 2022.

Ke depan, IDPRO mendorong pengukuran yang lebih luas melalui Water Usage Impact (WUI). Dengan indikator tersebut, penggunaan air tidak hanya dilihat berdasarkan volume konsumsi, tetapi juga tingkat tekanan atau kelangkaan air di lokasi data center.

"Semakin tinggi tekanan terhadap sumber air di suatu wilayah, semakin tinggi pula tuntutan terhadap penggunaan teknologi low-water atau waterless cooling," jelasnya.

Selain teknologi pendinginan, IDPRO juga mendorong pemanfaatan air daur ulang maupun sumber air non-potable sepanjang memenuhi aspek teknis, lingkungan dan regulasi.

Lebih lanjut, IDPRO menilai pembangunan data center di Indonesia perlu didukung kerangka kebijakan lintas sektor. Penentuan lokasi data center menurut Hendra tidak cukup hanya mempertimbangkan lahan dan konektivitas, tetapi juga daya dukung air dan energi.

"Data center bukan hanya persoalan bangunan atau teknologi informasi. Infrastruktur ini mempunyai kebutuhan besar terhadap listrik, konektivitas, lahan, dan dalam desain tertentu juga air," kata Hendra.

Menurut dia, pemerintah dapat mempertimbangkan sejumlah indikator dalam perencanaan lokasi data center, mulai dari ketersediaan dan bauran energi, water stress, kapasitas jaringan listrik, konektivitas fiber, risiko bencana hingga daya dukung lingkungan.

Baca Juga: Menko Airlangga Dorong Ekspansi Data Center, Kapasitas Diproyeksi Capai 1,5 GW

Hendra mengatakan, AMDAL tetap menjadi instrumen penting dalam pembangunan data center. Namun, untuk proyek berskala besar, perencanaan juga perlu melihat dampak pengembangan secara kumulatif di suatu wilayah.

IDPRO sendiri tengah menyiapkan Indonesia Sustainable Data Center Index yang disusun bersama Kementerian Komunikasi dan Digital, Dewan Energi Nasional serta Kementerian ESDM.

"Harapannya kita bisa naikkan menjadi standar dalam dua sampai tiga tahun ke depan," ujarnya.

Terkait penundaan sementara proyek data center di Jatiluhur, Hendra menilai langkah pemerintah untuk memastikan aspek perizinan dan lingkungan terpenuhi merupakan bagian dari tata kelola pembangunan.

Menurutnya, kepastian regulasi justru diperlukan pelaku industri untuk menjaga kepastian investasi data center dalam jangka panjang.

Jika proyek Jatiluhur dilanjutkan, IDPRO menilai perlu ada neraca air yang transparan dan terverifikasi, termasuk dengan memperhitungkan skenario musim kemarau dan kondisi ekstrem.

Selain itu, penggunaan air untuk data center harus dipastikan tidak mengurangi kebutuhan masyarakat maupun sektor pertanian. Pengembang juga perlu mengevaluasi teknologi pendinginan yang dapat menekan konsumsi air serta melakukan monitoring WUE dan konsumsi air secara berkala.

"Setiap ekspansi kapasitas sebaiknya dikaitkan dengan evaluasi ulang terhadap ketersediaan air dan energi. Persetujuan pada kapasitas awal tidak secara otomatis berarti seluruh pengembangan pada kapasitas maksimum dapat dilakukan tanpa evaluasi tambahan," pungkas Hendra.

Baca Juga: Ekspansi Data Center Indonesia Melesat, IDPRO Bidik Kapasitas 12 GW pada 2030

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×