Reporter: Hervin Jumar | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) memperingatkan fenomena El Nino yang mulai memicu musim kemarau panjang berpotensi mengganggu produksi pangan nasional.
Jika tidak diantisipasi secara menyeluruh, kondisi tersebut dikhawatirkan memicu gagal panen di sejumlah sentra produksi dan mendorong lonjakan harga pangan dalam beberapa bulan ke depan.
Sekretaris Jenderal Ikappi, Reynaldi Sarijowan, mengatakan dampak cuaca kering mulai dirasakan pada komoditas hortikultura yang membutuhkan pasokan air cukup selama masa tanam, seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai.
"Pertama, memang musim kemarau yang panjang ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap sejumlah komoditas. Pertama ada bawang merah, bawang putih, kemudian cabai-cabaian yang memang membutuhkan air dalam masa tanamnya. Ini cukup luar biasa," kata Reynaldi kepada Kontan, Rabu (29/7/2026).
Menurut Reynaldi, tekanan terhadap produksi mulai tercermin pada harga di pasar tradisional. Berdasarkan pantauan Ikappi, harga cabai rawit merah telah menembus Rp55.000 per kilogram, bawang putih mencapai Rp43.000 per kilogram, ayam ras dijual di kisaran Rp42.000-Rp45.000 per kilogram, sedangkan telur ayam berada di kisaran Rp27.000 per kilogram.
Baca Juga: El Nino Mengintai di 2026, Begini Strategi Pelaku Industri Sektor Pertanian Hadapi
Ia menilai pemerintah belum optimal mengantisipasi dampak siklus iklim yang berulang setiap tahun, baik El Nino maupun La Nina.
"Kalau selama setahun mengalami dua iklim ini pemerintah belum bisa mengatasinya atau belum optimal untuk mengatasinya maka ini ada salah obat yang dilakukan oleh pemerintah. Karena resepnya sudah ada, tinggal memberikan obatnya saja," ujarnya.
Lebih lanjut, Reynaldi mengingatkan ancaman terbesar berada pada sisi produksi. Tanpa langkah mitigasi yang komprehensif, sejumlah sentra pertanian berisiko mengalami gagal panen sehingga pasokan pangan ke pasar semakin berkurang.
"Sehingga komoditas-komoditas tadi masih mengalami lonjakan. Dan beberapa sentra tentu akan mengalami gagal panen kemudian hari jika tidak dimitigasi secara komprehensif," katanya.
Menurutnya, meski permintaan pangan pada Agustus biasanya tidak meningkat signifikan, dampak El Nino tetap dapat menjadi pemicu utama kenaikan harga pangan.
Oleh karena itu, Ikappi meminta pemerintah membenahi tata kelola pangan dari hulu hingga hilir dengan memperkuat koordinasi lintas kementerian serta melibatkan pelaku pasar dalam penyusunan kebijakan.
Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ancaman El Nino belum mengganggu ketersediaan pangan secara nasional.
Baca Juga: Hadapi El Nino, Pemerintah Genjot Infrastruktur Air demi Jaga Produksi Pangan
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan yang disusun Bapanas, stok pangan strategis mulai dari beras, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, hingga gula konsumsi diproyeksikan masih mencukupi hingga akhir 2026.
Data Bapanas menunjukkan stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) beras per 28 Juli 2026 mencapai 5,25 juta ton atau meningkat 245,4% dibandingkan posisi awal September 2023 yang sebesar 1,52 juta ton menjelang puncak El Nino saat itu.
Selain beras, pemerintah juga memiliki stok CPP jagung sebanyak 166.000 ton. Stok daging ayam ras mencapai 38 ton atau meningkat 138,4% dibandingkan sebelum El Nino 2023.
Adapun cadangan gula konsumsi tercatat sebanyak 2.000 ton dan minyak goreng sekitar 1.000 kiloliter.
Ketut mengatakan penguatan stok CPP tersebut menjadi modal pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan apabila dampak El Nino mulai dirasakan dalam beberapa bulan ke depan.
Meski demikian, Bapanas tetap meminta Perum Bulog mengintensifkan penyaluran beras melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) guna meredam gejolak harga di pasar.
"Beras memang stabil. Pasokan bagus tapi memang ada beberapa yang agak naik sedikit. Kami sepakat dengan Bapak Dirut Bulog. Pertama, GPM mohon digencarkan. Kedua, mohon juga digencarkan SPHP beras medium di pasar-pasar," kata Ketut.
Baca Juga: Pemerintah Klaim Stok Beras Aman, El Nino Godzilla Intai Produksi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














