Reporter: Azis Husaini | Editor: Azis Husaini
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Kehadiran pengganti gas melon alias LPG ukuran 3 kilogram (kg) perlahan-lahan mulai terkuak. Nama dan bentuknya pun sudah disosialisasikan kepada beberapa pelaku usaha dan juga beberapa stakeholder energi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan memberi nama produk ini CNG Merah Putih. Adapun berat tabungnya mencapai 3,8 meter kubik atau setara dengan 3 kg LPG.
Adapun tabung CNG Merah Putih ini terdiri atas komponen tabung, casing, dan valve penurun tekanan otomatis. Sementara untuk tabung dan casing diproduksi di negara Tiongkok. Adapun valve penurun tekanan otomatis diproduksi di negara Jerman.
Nantinya, keseluruhan tabung dirakit di negara Tiongkok. Informasi yang diperoleh Kontan.co.id, bahwa Bahlil Lahaladia Menteri ESDM yang mempresentasikan tabung CNG Merah Putih ini.
Nantinya CNG Merah Putih ini secara bertahap mensubstitusi tabung gas melon atau Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menyiapkan CNG 3 kilogram (kg) untuk secara bertahap mensubstitusi tabung gas melon atau Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi.
Sebelumnya, Direktrur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengungkapkan pihaknya sedang menyiapkan peta jalan (roadmap) terkait penggunaan CNG untuk mendiversifikasi sumber energi.
Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG dan memangkas beban subsidi pemerintah.
"LPG selain harga harus disubsidi, kita harus beli, impor. Jadi ada dua (beban), subsidi iya, impor iya, ada devisa yang harus kita keluarkan," kata Laode dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Aspebindo dan APLNCGI pada Selasa (5/5/2026).
Kementerian ESDM menargetkan tahap distribusi sudah bisa dimulai secara bertahap pada tahun ini. Substitusi LPG subsidi dengan CNG 3 kg ini akan dilakukan secara bertahap di kota-kota besar di Pulau Jawa terlebih dahulu. "Ini ada sisi penyiapan tabung, ada distribusi. Ini harus matching," imbuh Laode.
Indonesia mengimpor lebih dari 80% kebutuhan LPG nasional setiap tahunnya, yang volumenya mencapai sekitar 6,5 hingga 7 juta metrik ton. Ketergantungan ini memaksa pemerintah untuk mengeluarkan devisa negara hingga US$ 5 miliar dan menyedot APBN lebih dari Rp 80 triliun per tahun untuk menutupi subsidi LPG 3 k
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














