kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.918   32,00   0,18%
  • IDX 6.065   -81,51   -1,33%
  • KOMPAS100 781   -10,95   -1,38%
  • LQ45 599   -7,18   -1,18%
  • ISSI 212   -2,99   -1,39%
  • IDX30 333   -2,74   -0,82%
  • IDXHIDIV20 426   -3,64   -0,85%
  • IDX80 89   -1,23   -1,36%
  • IDXV30 116   -1,02   -0,87%
  • IDXQ30 109   -0,87   -0,79%

Impor Mobil CBU Turun 47,8%, Produksi Lokal Mulai Menguat


Kamis, 08 Oktober 2026 / 13:52 WIB
Impor Mobil CBU Turun 47,8%, Produksi Lokal Mulai Menguat
ILUSTRASI. Sepanjang Januari-Agustus 2026, volume impor CBU tercatat 51.321 unit, anjlok 47,8% secara tahunan dari 98.232 unit di periode yang sama 2025 (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Impor mobil utuh atau completely built up (CBU) ke Indonesia mulai tertekan seiring meningkatnya produksi kendaraan di dalam negeri. Sepanjang Januari-Agustus 2026, volume impor CBU tercatat 51.321 unit, anjlok 47,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari 98.232 unit pada periode yang sama tahun lalu.

Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto mengatakan, penurunan tersebut salah satunya berkaitan dengan berakhirnya fasilitas impor CBU melalui jalur investasi yang sebelumnya digunakan sejumlah merek.

"Impor CBU kan meningkat karena adanya beberapa merek yang mengimpor memakai jalur investasi BKPM. Dan merek-merek tersebut sudah stop impor sejak 31 Desember 2025," kata Jongkie kepada Kontan, belum lama ini.

Baca Juga: Moratorium Smelter Nikel Mencuat, FINI Beberkan 5 Strategi Demi Nilai Tambah Tinggi

Menurut dia, peningkatan lokalisasi produksi juga memiliki kaitan dengan penurunan impor CBU pada tahun ini. Namun, Gaikindo belum dapat mengkuantifikasi besaran dampak lokalisasi tersebut dalam bentuk persentase.

"Ya ada kaitannya juga," ujar Jongkie saat ditanya mengenai hubungan penurunan impor CBU dengan peningkatan lokalisasi produksi.

Ia menambahkan, dampak peningkatan lokalisasi terhadap penurunan impor CBU tidak dapat dihitung dalam persentase tertentu.

"Tidak bisa dipersentasekan," jelasnya.

Sebagai informasi, fasilitas impor CBU melalui jalur investasi sebelumnya diberikan sebagai bagian dari skema insentif untuk mendorong investasi kendaraan bermotor, khususnya kendaraan listrik. Fasilitas tersebut disertai komitmen investasi dan produksi kendaraan di dalam negeri.

Fasilitas impor CBU tersebut berakhir pada 31 Desember 2025. Memasuki 2026, sejumlah produsen yang sebelumnya memanfaatkan fasilitas tersebut mulai masuk ke fase produksi lokal dan meningkatkan pemanfaatan fasilitas manufaktur di Indonesia.

Perubahan strategi tersebut terlihat dari penurunan impor sejumlah merek. BYD, misalnya, hanya mencatat impor 1.058 unit sepanjang Januari-Agustus 2026, anjlok 95,4% dibandingkan dengan 22.964 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

VinFast juga mencatat penurunan impor sebesar 80,2% menjadi 2.642 unit dari 13.372 unit. Penurunan tersebut sejalan dengan mulai beroperasinya fasilitas produksi VinFast di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas hingga 50.000 unit per tahun.

Sementara itu, Denza mencatat impor 3.001 unit, turun 64,9% dari 8.557 unit. Mitsubishi Motors dan Suzuki masing-masing membukukan penurunan impor sebesar 56,4% dan 35,7%.

Baca Juga: 6 Bulan PP Tunas, Jutaan Akun Anak Mulai Dibatasi Platform Digital

Di sisi lain, Toyota masih menjadi merek dengan volume impor CBU terbesar sepanjang delapan bulan pertama 2026, yakni 25.545 unit. Angka tersebut justru meningkat 15,4% dari 22.133 unit pada periode yang sama tahun lalu.

Sejumlah merek lainnya juga masih mencatat pertumbuhan impor. Mazda membukukan kenaikan 12,7% menjadi 2.247 unit, sedangkan GWM naik 103,7% menjadi 1.501 unit. FAW juga mencatat pertumbuhan 51,3% menjadi 1.024 unit.

Penurunan impor CBU secara keseluruhan tersebut menunjukkan adanya perubahan komposisi pasokan kendaraan di pasar domestik. Bagi merek yang telah memiliki basis produksi di Indonesia, kebutuhan mengandalkan kendaraan impor utuh mulai berkurang seiring dengan peningkatan produksi lokal.

Tren tersebut juga menjadi bagian dari arah pengembangan industri otomotif nasional yang mendorong produsen meningkatkan investasi manufaktur dan pemenuhan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Dengan demikian, penurunan impor CBU pada 2026 tidak hanya mencerminkan perubahan volume perdagangan kendaraan, tetapi juga mulai terlihatnya pergeseran sumber pasokan dari kendaraan impor menuju produksi dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×