Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Indonesia dan Australia mengoptimalkan manfaat Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) melalui peluncuran program Katalis 2.0.
Program lanjutan ini ditujukan untuk memperkuat perdagangan dan investasi dua arah, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha kedua negara melalui kolaborasi pemerintah, industri, dan berbagai lembaga ekonomi
Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia, Matt Thistlethwaite MP mengatakan, pemerintah Australia mengalokasikan dana sebesar AUD 40 juta untuk mendukung pelaksanaan Katalis 2.0. Langkah tersebut diarahkan untuk menciptakan peluang bisnis baru sekaligus memperluas manfaat dari IA-CEPA.
Baca Juga: BPOM Temukan 14 Kosmetik Ilegal dan Mengandung Bahan Berbahaya
"Sejak IA-CEPA mulai berlaku pada tahun 2020, perdagangan dua arah antara Australia dan Indonesia telah meningkat tiga kali lipat. Investasi oleh perusahaan Australia ke Indonesia juga meningkat dan kini mendekati US$ 1,2 miliar per tahun," kata Matt dalam acara peluncuran Katalis 2.0 di Jakarta Selatan, Senin (13/7/2026).
Adapun program ini, kata Matt, merupakan kelanjutan dari keberhasilan fase pertama Katalis 1.0 selama periode 2021-2025. Program tersebut telah mendorong peningkatan kerja sama bisnis kedua negara, termasuk dalam mendukung ekspor Indonesia ke Australia di sektor komoditas kakao, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia melalui pendidikan.
Menurut Matt, fase kedua dari program ini juga ditargetkan dapat semakin menyokong usaha yang masih membutuhkan dukungan lebih besar, seperti usaha kecil dan menengah (UKM) hingga usaha yang dikelola perempuan.
Ia mencontohkan, Katalis 1.0 telah memberikan manfaat bagi bisnis Indonesia dan Australia melalui peningkatan akses pasar maupun pengembangan kapasitas tenaga kerja.
Salah satunya, kata Matt, adalah usaha kecil yang dikelola perempuan Indonesia yang kini mampu mengekspor produk kakao ke pasar cokelat Australia.
Selain itu, terdapat pula program pelatihan bagi tenaga perawat Indonesia yang memungkinkan mereka meningkatkan kompetensi untuk bekerja di sektor kesehatan Australia.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri mengungkapkan bahwa pendidikan telah menjadi salah satu sektor yang berpeluang besar untuk terus dikembangkan dalam kerja sama Indonesia-Australia.
Hal ini tercermin dari sejumlah kampus asal Australia yang telah membuka cabang di Indonesia, sehingga membuka akses bagi masyarakat Indonesia untuk memperoleh pendidikan berstandar internasional tanpa harus menempuh studi ke luar negeri.
Roro bilang, pemerintah Indonesia dan Australia juga telah membahas peluang peningkatan kolaborasi di sektor jasa.
"Salah satu sektor yang dibahas sebelumnya adalah sektor kesehatan, khususnya untuk tenaga perawat. Kami berharap ke depannya akan ada transfer pengetahuan atau pelatihan bagi para tenaga kerja kita agar dapat memenuhi standar internasional," terang Roro.
Lebih lanjut, Roro mengatakan pemerintah juga mendorong pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) agar meningkatkan kapasitas ekspor untuk memanfaatkan peluang pasar Australia.
Menurutnya, kerja sama IA-CEPA telah memberikan dampak terhadap peningkatan perdagangan bilateral kedua negara. Nilai perdagangan Indonesia dan Australia meningkat dari US$ 7,2 miliar pada 2020 menjadi US$ 13 miliar pada 2025.
Baca Juga: APBI Soroti Sinkronisasi Penugasan Batubara PLN dan Kapasitas Produksi Tambang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














