kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   -20.000   -0,75%
  • USD/IDR 18.145   58,00   0,32%
  • IDX 5.917   -7,58   -0,13%
  • KOMPAS100 772   1,18   0,15%
  • LQ45 590   0,90   0,15%
  • ISSI 203   -0,55   -0,27%
  • IDX30 334   0,62   0,18%
  • IDXHIDIV20 414   1,14   0,28%
  • IDX80 88   0,21   0,24%
  • IDXV30 113   0,37   0,33%
  • IDXQ30 107   0,02   0,02%

Ketidakpastian Global Bayangi Kinerja Industri Semester II-2026


Senin, 13 Juli 2026 / 12:49 WIB
Ketidakpastian Global Bayangi Kinerja Industri Semester II-2026
ILUSTRASI. Prospek industri Indonesia semester II-2026 dibayangi ketidakpastian global. Pelaku usaha perlu strategi tepat untuk bertahan dan berkembang (Dok/IST)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha memandang prospek sektor industri pada semester II-2026 masih berpeluang membaik. Namun, perbaikan tersebut diperkirakan berlangsung secara bertahap seiring ketidakpastian global yang masih membayangi akibat dinamika geopolitik.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, dunia usaha memasuki paruh kedua tahun ini dengan sikap cautious optimism atau optimistis secara hati-hati.

"Memang dibandingkan puncak eskalasi konflik beberapa waktu lalu, tekanan terhadap harga energi dan biaya logistik mulai sedikit mereda. Namun kondisinya belum sepenuhnya kembali seperti sebelum dinamika geopolitik terjadi," ujar Shinta kepada Kontan, Senin (13/7/2026).

Baca Juga: Rupiah Melemah, Industri Konstruksi Masuk Fase Kritis Akibat Harga Material Melonjak

Menurut dia, perkembangan di Timur Tengah pada awal Juli kembali menunjukkan eskalasi sehingga tingkat ketidakpastian global masih relatif tinggi. Dalam situasi tersebut, pelaku usaha tetap mengedepankan manajemen risiko, penguatan ketahanan rantai pasok (supply chain resilience), serta kehati-hatian dalam mengambil keputusan investasi maupun ekspansi usaha.

Di sisi domestik, Shinta menilai sejumlah indikator juga menunjukkan aktivitas industri sedang mengalami fase moderasi. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari level di atas 53 pada awal tahun. Penurunan ini mencerminkan kontraksi aktivitas manufaktur akibat melemahnya pesanan baru, baik dari pasar domestik maupun ekspor.

Tren serupa terlihat pada Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian yang turun dari 54,12 pada Januari menjadi sekitar 52,90 pada Juni 2026. Meski masih berada di zona ekspansi, penurunan tersebut menunjukkan optimisme pelaku industri menjadi lebih terukur.

Sementara itu, Indeks Penjualan Riil (IPR) Bank Indonesia juga turun dari 226,9 pada April menjadi 223,4 pada Mei 2026. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya moderasi permintaan domestik yang turut memengaruhi aktivitas produksi dan perdagangan.

Dari sisi eksternal, dunia usaha juga mencermati berakhirnya tren surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama enam tahun.

Meski defisit perdagangan Mei 2026 terutama dipicu meningkatnya impor migas, pelemahan ekspor menunjukkan permintaan global belum sepenuhnya pulih sehingga tekanan terhadap sektor berorientasi ekspor masih terasa.

Baca Juga: Garuda Indonesia Terapkan Aturan Bagasi Berdasarkan Jumlah Koper Mulai 1 September

Shinta mengatakan, prospek industri pada semester II tetap memiliki peluang membaik dibanding semester I, tetapi sangat bergantung pada perkembangan kondisi global dan domestik.

"Stabilitas geopolitik, perbaikan permintaan dunia, kepastian rantai pasok global, penguatan daya beli masyarakat, percepatan investasi, deregulasi, serta kepastian kebijakan akan menjadi faktor penting untuk memulihkan kepercayaan dunia usaha," katanya.

Rantai Pasok Belum Pulih Penuh

Meski harga minyak dunia mulai turun mendekati level sebelum konflik, Shinta mengatakan, aktivitas produksi dan rantai pasok global belum sepenuhnya kembali normal.

Ia menjelaskan, premi asuransi pelayaran dan biaya keamanan untuk pengiriman melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz masih relatif tinggi karena persepsi risiko belum hilang sepenuhnya.

Baca Juga: Estimasi Sumber Daya Mineral Proyek Tembaga-Emas Gua Macan MDKA Capai 276 Juta Ton

Selain itu, terdapat jeda waktu (time lag) dalam rantai pasok global. Banyak perusahaan telah mengamankan kontrak pembelian bahan baku dan pengiriman beberapa bulan sebelumnya sehingga manfaat penurunan harga energi baru akan dirasakan secara bertahap.

"Penurunan harga minyak mentah juga tidak langsung tercermin pada harga barang, tarif angkutan maupun tiket transportasi. Selama biaya logistik dan distribusi masih tinggi, sebagian beban biaya tersebut masih diteruskan ke harga jual," jelas Shinta.

Karena itu, dunia usaha masih terus memantau perkembangan geopolitik secara intensif untuk mengantisipasi kemungkinan eskalasi konflik yang kembali terjadi. Optimisme terhadap pemulihan industri tetap ada, tetapi dibangun di atas kewaspadaan terhadap berbagai risiko global yang masih berlangsung. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×