kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Indonesia Peringkat 2 Ketahanan Energi Global, Kadin Beri Catatan Ini


Senin, 04 Mei 2026 / 15:59 WIB
Indonesia Peringkat 2 Ketahanan Energi Global, Kadin Beri Catatan Ini
ILUSTRASI. Indonesia duduki peringkat 2 ketahanan energi global versi JP Morgan. Cadangan fosil besar jadi pendorong, namun ada tantangan serius menanti. (REUTERS/Alexander Manzyuk)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga keuangan global JP Morgan menempatkan Indonesia di posisi kedua dari 52 negara sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik di dunia di tengah gejolak geopolitik.

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menyambut positif capaian tersebut. Namun, sektor swasta mengingatkan bahwa resiliensi energi ini masih perlu ditingkatkan menjadi kemandirian energi yang utuh.

Ketua Komite Tetap Kajian Hilirisasi dan Investasi Kadin Indonesia, Chandra Wahjudi menjelaskan, posisi kuat Indonesia didorong oleh besarnya sumber daya fosil domestik.

"Beberapa faktor antara lain adalah cadangan dan produksi batubara dan gas domestik yang besar, menurut laporan JP Morgan batubara memenuhi ±48% konsumsi energi akhir nasional. Diversifikasi sumber daya energi ini yang membuat Indonesia lebih resiliens dibanding banyak negara," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (4/5/2026).

Baca Juga: Aturan Impor Gandum Pakan Berubah, Berdikari Bantah Isu Harga Gandum Bisa Mahal

Chandra menilai, strategi pemerintah saat ini sudah berada di jalur yang tepat untuk memperkuat kedaulatan energi. Langkah tersebut mencakup optimalisasi produksi migas domestik guna menekan defisit neraca migas, hingga percepatan transisi energi melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang tertuang dalam RUKN/RUPTL.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya program mandatori biodiesel dalam mengurangi ketergantungan impor energi.

"Pengembangan B50 untuk mengurangi impor solar yang menargetkan tahun 2026 Indonesia tidak lagi impor solar dan meningkatkan eksplorasi migas masif, termasuk temuan gas besar seperti Geliga-1 (5 Tcf) adalah langkah-langkah yang sudah tepat," terangnya.

Baca Juga: Pengamat Soroti Risiko Pemusatan Impor Gandum Pakan ke BUMN

Meski memiliki ketahanan yang cukup solid di tengah tekanan geopolitik global, Chandra mengingatkan bahwa status Indonesia sebagai net importir minyak masih menjadi tantangan utama. Kondisi ini dinilai lebih baik dibanding banyak negara lain, namun belum mencerminkan kemandirian energi secara penuh.

Lebih lanjut, Chandra menegaskan pentingnya konsistensi dalam implementasi kebijakan di lapangan. "Untuk menuju kemandirian energi, strategi ketahanan energi nasional tersebut harus diimplementasikan dengan baik," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×