kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.753   44,00   0,25%
  • IDX 6.525   7,36   0,11%
  • KOMPAS100 852   3,39   0,40%
  • LQ45 644   2,00   0,31%
  • ISSI 229   -0,13   -0,06%
  • IDX30 360   1,47   0,41%
  • IDXHIDIV20 443   4,53   1,03%
  • IDX80 97   0,33   0,34%
  • IDXV30 124   2,23   1,83%
  • IDXQ30 115   0,70   0,62%

Industri Alas Kaki Tertekan Ketidakpastian Permintaan


Senin, 31 Agustus 2026 / 18:54 WIB
Industri Alas Kaki Tertekan Ketidakpastian Permintaan
ILUSTRASI. Kondisi geopolitik dan hambatan jalur perdagangan turut membuat pesanan ekspor produk alas kaki tidak stabil. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri kulit dan alas kaki menjadi satu-satunya subsektor di bawah Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian yang mengalami kontraksi pada Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026.

Sekretaris Ditjen IKFT Kemenperin Sri Bimo Pratomo mengatakan, pelemahan industri kulit dan alas kaki tersebut terutama dipicu ketidakpastian permintaan dari pasar ekspor maupun domestik. Kondisi geopolitik dan hambatan jalur perdagangan turut membuat pesanan ekspor produk alas kaki tidak stabil.

"Satu-satunya yang kontraksi adalah industri kulit dan alas kaki," ujar Bimo dalam pemaparan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026, Senin (31/8/2026).

Amerika Serikat (AS) yang menjadi salah satu tujuan ekspor utama produk alas kaki Indonesia turut menjadi perhatian. Ketidakpastian di pasar tersebut membuat pelaku industri kesulitan memperoleh kepastian pesanan dari pembeli luar negeri.

Baca Juga: DSI Bakal Jadi Offtaker Ekspor, Ada Risiko Finansial hingga Rp 901,5 Triliun

Tekanan juga datang dari pasar domestik. Bimo menyebut, kontraksi industri alas kaki terutama terjadi pada perusahaan yang berorientasi memenuhi permintaan dalam negeri. Kondisi ini sejalan dengan melambatnya konsumsi masyarakat untuk pakaian dan alas kaki.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan konsumsi pakaian dan alas kaki melambat dari 5,99% menjadi 3,52%.

"IKI alas kaki kontraksi yang dalam pada industri yang tidak orientasi ekspor, jadi yang berorientasi produksi untuk dalam negeri," jelas Bimo.

Meski demikian, Kemenperin melihat masih ada peluang bagi industri kulit dan alas kaki untuk kembali tumbuh. Momentum Lebaran diharapkan dapat mengerek permintaan pakaian dan alas kaki di pasar domestik.

Peluang IEU CEPA

Selain itu, implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) pada 2027 berpotensi membuka pasar ekspor baru bagi industri alas kaki nasional.

Bimo menilai akses pasar dengan tarif yang lebih rendah dapat memperkuat daya saing produk alas kaki Indonesia di Uni Eropa. "Ini merupakan suatu peluang yang sangat besar sekali, terutama untuk industri kulit dan alas kaki, karena kita melihat potensi ekspor kita ke Uni Eropa ini cukup besar," katanya.

Namun, peluang tersebut bukan tanpa tantangan. Pelaku industri harus mampu memenuhi standar produk yang berlaku di pasar Eropa yang relatif ketat.

Karena itu, Kemenperin tengah menyiapkan industri di bawah binaan Ditjen IKFT, khususnya sektor kulit dan alas kaki, agar dapat memenuhi persyaratan pasar Uni Eropa.

Di tengah kontraksi industri kulit dan alas kaki, sejumlah subsektor IKFT masih mencatat ekspansi pada Agustus 2026.

Baca Juga: Medikaloka Hermina (HEAL) Tuntaskan Target Buka Dua Rumah Sakit Baru pada 2026

Industri tekstil dan pakaian jadi masih tumbuh, antara lain didukung perubahan preferensi konsumen dari produk fast fashion menuju produk yang lebih awet dan ramah lingkungan.

Industri bahan kimia juga berada dalam fase ekspansi. Kinerja subsektor ini ditopang kenaikan pesanan dan produksi serta meningkatnya permintaan dari pasar ekspor.

Sementara itu, industri karet, barang karet dan plastik turut mencatat ekspansi. Namun, industri plastik hilir masih menghadapi tekanan produk impor.

Bimo mengatakan, sebagian besar produk plastik hilir masih berstatus barang bebas sehingga belum banyak yang terkena kebijakan larangan dan pembatasan. Kondisi ini membuat produk plastik impor relatif mudah masuk ke pasar domestik.

Alhasil, penyerapan produksi industri plastik hilir nasional masih sangat dipengaruhi oleh harga dan daya saing terhadap produk impor.

"Meningkatnya persediaan produk plastik mengindikasikan belum optimalnya penyerapan pasar yang antara lain dipengaruhi oleh persaingan produk impor," tambah Bimo.

Baca Juga: Ekspor Satu Pintu SDA Lewat DSI di Tahap Transisi, LPEM FEB UI Soroti Tiga Tantangan

Adapun industri barang galian nonlogam masih mencatat ekspansi. Kinerja sektor ini terutama ditopang peningkatan pesanan dan produksi pada industri semen, keramik, dan kaca lembaran.

Namun, kenaikan produksi juga diikuti peningkatan persediaan. Sektor tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari penyerapan pasar, kelancaran distribusi, hingga kepastian pasokan energi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×