kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.770.000   11.000   0,40%
  • USD/IDR 18.056   -21,00   -0,12%
  • IDX 5.692   -147,63   -2,53%
  • KOMPAS100 754   -18,04   -2,34%
  • LQ45 567   -14,29   -2,46%
  • ISSI 199   -4,04   -1,99%
  • IDX30 321   -7,87   -2,39%
  • IDXHIDIV20 396   -10,45   -2,57%
  • IDX80 85   -1,87   -2,15%
  • IDXV30 108   -3,45   -3,10%
  • IDXQ30 104   -2,46   -2,31%

Industri ban terpukul kebijakan perpanjangan PSBB


Kamis, 23 April 2020 / 16:12 WIB
ILUSTRASI. Ketua Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane. KONTAN/Lidya Yuniartha


Reporter: Agung Hidayat | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Merosotnya penjualan kendaraan bermotor di tahun ini juga ikut menggerus bisnis industri ban tanah air. Selain itu pelaku industri juga mendapatkan tekanan dari perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar di ibukota.

Menurut Aziz Pane, Ketua Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) dari segi penjualan ritel, pemberlakuan PSBB harusnya bisa memperhitungkan pembatasan dengan lebih rapi. "Saat ini banyak toko dan bengkel ban tutup, padahal kebutuhan penggantian ban kendaraan juga tidak hilang," katanya kepada Kontan.co.id, Kamis (23/4).

Baca Juga: Cegah penyebaran corona, Goodyear Indonesia (GDYR) menutup pabrik hingga 3 Mei 2020

Ia melanjutkan, sebaiknya pemerintah bisa mengatur agar masih ada beberapa toko atau bengkel yang tetap buka di titik tertentu untuk mengakomodir kebutuhan pasar. Di tengah kondisi pandemi covid-19 ini pun, menurut Aziz pasar ban domestik memang menurun.

Pabrik mobil dan motor yang berhenti sementara pasti mengurangi produksinya, kata Aziz permintaan ban juga bakal turut menyusut seiring berkurangnya produksi tersebut. Peluang bisnis lain ada pada segmen replacement atau ritel, namun kondisi ini diperparah dengan PSBB yang membuat pelaku ritel menutup usahanya.

Dari sisi produksi, beberapa pabrikan berpotensi menutup lini produksinya. Menurut Aziz, untuk pabrikan kecil cashflow yang kian kering menyebabkan mereka hanya mampu bertahan dua sampai tiga bulan ke depan untuk survive.

Baca Juga: Indonesia bans traditional Ramadan exodus to rein in coronavirus

Melihat satu tahun ini, APBI belum merinci proyeksi pertumbuhannya, namun diakui pasar masih berkontraksi. Adanya janji pemerintah lewat relaksasi perpajakan sampai saat ini belum tampak realisasinya.

Sehingga banyak perusahaan mengupayakan berbagai cara untuk menjaga efisiensi di tengah situasi sulit ini. Sebagai informasi, saat ini APBI mencatat ada sekitar 14 pabrik ban lokal dengan total kapasitas terpasang mencapai 85 juta unit per tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×