kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.554.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.003   1,00   0,01%
  • IDX 5.250   -28,82   -0,55%
  • KOMPAS100 675   -4,77   -0,70%
  • LQ45 528   -2,54   -0,48%
  • ISSI 178   -1,24   -0,69%
  • IDX30 297   -1,08   -0,36%
  • IDXHIDIV20 388   -1,27   -0,33%
  • IDX80 78   -0,40   -0,51%
  • IDXV30 107   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 98   -0,16   -0,17%

Industri Galangan Minta Stimulus, Gara-Gara Harga Bahan Baku Kapal Naik 20%


Rabu, 21 Oktober 2026 / 11:20 WIB
Industri Galangan Minta Stimulus, Gara-Gara Harga Bahan Baku Kapal Naik 20%
ILUSTRASI. IPERINDO mencatat harga bahan baku kapal meningkat hingga 20% sepanjang 2026 karena rupiah melemah terhadap dolar AS (Dok/PT PAL Indonesia)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri galangan kapal nasional menghadapi tekanan kenaikan biaya produksi. Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO) mencatat harga bahan baku kapal meningkat hingga 20% sepanjang 2026.

Ketua Umum IPERINDO Anita Puji Utami mengatakan, kenaikan harga bahan baku turut dipengaruhi penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap biaya produksi galangan kapal.

“Bisa di 20% kenaikannya (harga bahan baku produksi kapal),” kata Anita di Kantor Kemenperin, Selasa (20/10/2026).

Baca Juga: Pertamina Diminta Jadi Offtaker Kapal Tanker Lokal

Menurut Anita, kenaikan biaya produksi menjadi tantangan bagi galangan, terutama dalam mengerjakan kontrak yang telah disepakati sebelumnya. Pasalnya, kontrak hasil tender umumnya tidak memberikan ruang untuk melakukan penyesuaian harga ketika biaya bahan baku meningkat.

“Karena dolar sangat naik saat ini, sangat tinggi sekali. Tentunya bahan baku yang tinggi ini sangat berpengaruh terhadap nilai secara keseluruhan dari produksi itu sendiri,” ujarnya.

Karena itu, IPERINDO berharap pemerintah memberikan stimulus untuk menjaga keberlangsungan industri galangan kapal. Selain pengendalian harga bahan baku, pelaku usaha mendorong dukungan kebijakan fiskal untuk meningkatkan daya saing industri.

“Jadi harapan kami, pemerintah mungkin bisa melihat dan juga memberikan stimulus. Karena kalau kita tender-tender yang ada pasti tidak ada namanya eskalasi,” kata Anita.

IPERINDO juga mendorong pemberian insentif bagi perusahaan pelayaran yang memesan kapal dari galangan dalam negeri. Selain itu, asosiasi mengusulkan penghapusan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk membantu menekan biaya produksi kapal.

Baca Juga: Dua Tahun Prabowo-Gibran, KNMP Catat Perdagangan 719 Ton Ikan Senilai Rp 18,77 Miliar

Di sisi lain, pemerintah membuka peluang pemberian insentif dari sisi produksi hingga pasar. Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah insentif penggunaan kapal tanker buatan dalam negeri untuk pengangkutan bahan bakar minyak (BBM) oleh PT Pertamina.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, insentif dari sisi pasar diperlukan agar pelaku usaha lebih tertarik memesan kapal dari galangan nasional. Kepastian permintaan akan menjadi modal bagi industri untuk meningkatkan kapasitas produksi.

“Iya, dari sisi produksi diberi insentif, di sisi hilirnya di pasarnya pun diberi insentif. Itu akan lebih mantap menurut saya,” ujar Sarmuji usai Pelantikan dan Pengukuhan DPP IPERINDO periode 2026–2030 di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Menurut dia, peningkatan permintaan akan mendorong galangan kapal nasional memperbesar kapasitas sekaligus meningkatkan kemampuan teknologi dan produksinya.

Baca Juga: Produksi Kapal Baru Naik 251,7%, Kemenperin Genjot Galangan Perkuat Daya Saing

Sementara itu, Kemenperin tengah menyusun peta jalan industri perkapalan nasional untuk periode 2026–2030. Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas galangan, khususnya di luar Jawa dan Batam, agar mampu membangun kapal hingga 30.000 deadweight tonnage (DWT).

Untuk kapal tanker, kapasitas pembangunan ditargetkan mencapai 60.000 DWT. Target tersebut diharapkan memperkuat kemampuan galangan nasional dalam memenuhi kebutuhan kapal berukuran besar sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×