kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45874,12   -12,06   -1.36%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Industri Pertambangan Terdampak Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS


Senin, 15 April 2024 / 19:12 WIB
Industri Pertambangan Terdampak Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS
ILUSTRASI. Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut berdampak terhadap industri pertambangan. KONTAN/Muradi


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut berdampak terhadap industri pertambangan di Tanah Air. Dampak yang dirasakan khususnya adalah terkait biaya operasi dan penjualan.

Berdasarkan pantauan di laman Google Finance, rupiah telah menembus level Rp 16.057 per dolar AS pada Senin (15/4) sore.

Pengusaha batubara menyatakan pelemahan rupiah tidak serta merta menguntungkan kinerja ekspor komoditas pertambangan.

Baca Juga: Rupiah Tersungkur, Begini Dampaknya ke Emiten Properti yang Punya Utang Dolar

Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA) Djoko Widajatno mengatakan, kenaikan dolar terhadap nila tukar rupiah akan memberatkan industri pertambangan.

Hal itu disebabkan karena industri tambang, tidak memperoleh kebijakan fiskal dan non fiskal sehingga permodalan yang diperoleh dari pinjaman Luar Negeri berupa mata uang dolar dan dikembalikan dalam bentuk mata uang dolar, karena bank Nasional belum bersedia membantu industri tambang yang memiliki risiko tinggi.

Selain itu, operasi penambangan membutuhkan bahan baku dari impor, yang harus dibayar dengan dolar sehingga akan menaikkan ongkos produksi komoditas.

"Keuntungan perusahaan tambang akan berkurang," kata Djoko kepada KONTAN, Senin (15/4).

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Rizal Kasli menilai pengaruh depresiasi rupiah terhadap dolar ini terutama terhadap biaya operasi dan penjualan.

Ia menjelaskan, umumnya biaya operasi tambang itu ada yang dibelanjakan dalam bentuk rupiah dan ada dalam bentuk dolar terutama untuk barang dan bahan baku atau bahan penolong yang diimpor.

Baca Juga: Pelemahan Rupiah Akan Berdampak Besar bagi Industri Farmasi

"Kalau TKDN-nya tinggi perusahaan tersebut akan diuntungkan karena ekspor dalam dolar dan belanja operasional sebagian besar dalam rupiah," kata Rizal kepada KONTAN, Senin (15/4).

Namun, lanjut Rizal, jika penjualannya sebagian besar di dalam negeri tentu hal ini akan memberikan dampak peningkatan biaya operasional bila banyak barang terutama spare part dan bahan penolong harus dibayar dalam dolar.

 
 
 
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×