Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha yang bergerak di industri petrokimia sedang menghitung dampak dari eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Para produsen petrokimia mencari alternatif pasokan bahan baku sembari mencermati potensi lonjakan harga minyak mentah dan biaya logistik dunia.
Sekretaris Jenderal Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas) Fajar Budiono menyoroti dampak penutupan Selat Hormuz terhadap pasokan minyak mentah dan nafta sebagai bahan baku untuk industri petrokimia.
Fajar mengatakan bahwa saat ini pasokan nafta masih dominan berasal dari Timur Tengah.
Baca Juga: Ekspansi Bisnis, United Bike Menggarap Pasar Sepeda Anak-Anak
Dia memberikan gambaran, produsen petrokimia di Indonesia membutuhkan pasokan nafta minimal sekitar 3,5 juta ton per tahun. Lebih dari separuh kebutuhan tersebut berasal dari Timur Tengah. Dengan penutupan Selat Hormuz, saat ini pasokan minyak mentah dan nafta hanya mengandalkan jalur Laut Merah.
Guna mengamankan pasokan bahan baku, para produsen petrokimia akan mencari alternatif sumber nafta hingga ke AS. Hanya saja, pelaku industri mesti menghadapi risiko harga dan biaya yang lebih mahal.
Selain dari sisi produsen, Fajar mengingatkan soal daya beli industri di dalam negeri sebagai pengguna produk petrokimia. "Alternatif pasokan dari AS, kontrak baru atau spot, harganya pasti akan berubah. Tinggal daya belinya masih kuat atau nggak," ujar Fajar saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (2/3/2026).
Fajar belum bisa menggambarkan proyeksi perubahan harga yang bakal terjadi akibat konflik ini. Pelaku industri masih mengestimasikan seberapa lama konflik di Timur Tengah akan berlangsung, serta melakukan rekalkulasi berbagai biaya dan perubahan harga minyak mentah - nafta.
"Semuanya lagi rekalkulasi, bukan wait and see karena ini nggak bisa nunggu. Menyiapkan beberapa alternatif, mungkin bisa 5-6 skenario. Apalagi kalau perangnya bukan hanya melibatkan Iran, Israel dan AS, tapi merembet ke negara lainnya," terang Fajar.
Meski begitu, Fajar meyakinkan bahwa pelaku industri sudah mengamankan bahan baku hingga barang jadi untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan Idulfitri pada kuartal I-2026 ini. Persoalan yang perlu diantisipasi adalah ketersediaan bahan baku pasca Idulfitri sampai pertengahan tahun 2026.
Jika konflik berlangsung dalam beberapa bulan, pelaku industri perlu menyiapkan strategi untuk menyesuaikan operasional dengan bahan baku yang ada. "Lambat laun harus cari strategi bagaimana membangun pasar dengan bahan baku dan barang-barang yang terbatas. Harus ada inovasi-inovasi baru," ujar Fajar.
Baca Juga: RKAB Dipangkas, Industri Smelter Hadapi Gap Pasokan Nikel Hingga 100 Juta Ton
Secara operasional, kondisi ini bisa menekan tingkat utilisasi di industri hulu petrokimia. Target realistis yang masih mungkin tercapai adalah menjaga rata-rata utilisasi di level 70% seperti tahun lalu.
Padahal, sebelumnya Inaplas optimistis utilisasi hulu petrokimia tahun ini bisa menembus 75% - 80%.
Sementara itu, Fajar memperkirakan utilisasi di industri hilir akan punya kinerja yang lebih apik. "Di hilir substitusi (bahan baku)-nya banyak. Bisa ambil dari ASEAN, Asia maupun AS. Jadi posisinya lebih kuat daripada hulu dalam hal pengaruh perang ini," tandas Fajar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













