kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   30.000   1,05%
  • USD/IDR 17.157   13,00   0,08%
  • IDX 7.624   -52,36   -0,68%
  • KOMPAS100 1.056   -6,56   -0,62%
  • LQ45 760   -4,37   -0,57%
  • ISSI 277   0,16   0,06%
  • IDX30 404   -2,51   -0,62%
  • IDXHIDIV20 489   -2,28   -0,46%
  • IDX80 118   -0,60   -0,51%
  • IDXV30 138   1,46   1,07%
  • IDXQ30 129   -0,80   -0,62%

Industri Tekstil Indonesia Masih Tertekan, Menperin Ungkap Penyebab Utamanya


Rabu, 15 April 2026 / 16:13 WIB
Industri Tekstil Indonesia Masih Tertekan, Menperin Ungkap Penyebab Utamanya
ILUSTRASI. Pabrik tekstil dan produk tekstil (TPT) (Istimewa/dok)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional masih menghadapi tekanan, terutama dari sisi pasokan bahan baku dan dinamika geopolitik global.

Menurut Politikus Golkar ini, ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat industri TPT rentan terhadap disrupsi rantai pasok. Di saat yang sama, perubahan permintaan pasar global turut memengaruhi kinerja industri dalam negeri.

“Bahan baku menjadi hal yang sangat penting. Disrupsi rantai pasok pasti kita alami, dan dinamika permintaan pasar internasional juga terus berubah,” ujar Agus pada acara Pameran Indo Intertex Inatex 2026 di JiExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (15/4/2026).

Baca Juga: Apindo Dorong RUU Ketenagakerjaan Lebih Fleksibel, Demi Menciptakan Lapangan Kerja

Ia menjelaskan, ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global mendorong perubahan struktur rantai pasok dunia. Meski menjadi tantangan, kondisi tersebut juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam jaringan produksi global.

Kementerian Perindustrian terus mencermati perkembangan global, termasuk kebijakan negara mitra dagang serta arah perdagangan internasional. Langkah ini diperlukan agar kebijakan yang diambil tetap relevan dan tepat sasaran bagi industri.

Agus menekankan, perumusan kebijakan harus bersifat adaptif dan responsif terhadap dinamika global. Untuk itu, keterlibatan pelaku usaha menjadi kunci agar kebijakan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

“Kami harus melibatkan pelaku usaha harus karena mereka yang paham di lapangan kami juga harus memastikan bahwa kebijakan pemerintah yang akan diambil itu merupakan sebuah kebijakan yang adaptif adaptif terhadap dinamika global sehingga policy kita harus tepat sasaran, harus bisa responsif terhadap kebutuhan industri," ujarnya.

Pemerintah pun menegaskan tidak dapat berjalan sendiri dalam menghadapi tekanan global, sehingga kolaborasi dengan pelaku industri menjadi bagian penting dalam menjaga daya saing sektor TPT nasional.

Baca Juga: Industri Tekstil Mulai Dapat Pasokan Bahan Baku dari Petronas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×