kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.345.000 -0,88%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Ini Kata Pengamat Soal Merebaknya Fenomena Social Commerce


Selasa, 30 Mei 2023 / 15:26 WIB
Ini Kata Pengamat Soal Merebaknya Fenomena Social Commerce
ILUSTRASI. Belanja online.


Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebiasaan masyarakat untuk berbelanja online semakin meningkat meskipun badai pandemi telah berakhir. Selain berbelanja melalui platform belanja online atau e-commerce, masyarakat kini juga mulai berbelanja online melalui kanal media sosial yang juga dikenal sebagai social commerce.

Berdasarkan data Social Commerce 2022 oleh DSInnovate, pasar social commerce di Indonesia pada 2022 mencapai angka US$ 8,6 miliar. Dengan estimasi pertumbuhan tahunan sekitar 55%, dan diperkirakan bakal menyentuh US$86,7 miliar pada 2028.

Pengamat Media Sosial, Enda Nasution mengatakan definisi social commerce yaitu platform media sosial yang menyediakan fitur untuk transaksi seperti di Tiktok.

“Sebenarnya social commerce itu terbagi dua, on platform transaksi dilakukan di atas platform dan off platform, transaksi via bank transfer atau lain seperti IG, FB, WhatsApp,” ungkap Enda dalam keterangannya, Selasa (30/5).

Baca Juga: Emiten E-Commerce Berpacu Mencapai Profit Lebih Dulu

Terkait keamanan transaksi, Enda juga berkomentar semua transaksi belanja pasti ada risikonya. Namun, apabila ada pihak ke-3 yang dapat memastikan dan menjamin keamanan transaksi akan lebih baik. Misalnya peran marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak.

“Sebaiknya masyarakat harus lebih berhati-hati dalam berbelanja online, ada beberapa hal yang membuat banyak korban terjerat penipuan di social commerce. Pertama ada faktor kurang hati-hati. Misalnya pengguna media sosial melihat ada barang yang dijual sangat murah langsung nafsu ingin beli, tidak dicek lagi apakah penjualnya kredibel atau tidak," tambah Enda.

Terkait hal ini, banyak dari para pembeli yang menjadi korban tidak dapat mengajukan komplain di kolom komentar dan DM (direct message) ke pemilik akun. 

Lebih lanjut Enda mengatakan maraknya penipuan online shop di media sosial terjadi karena konsekuensi risiko bagi penipu yang lebih kecil ketimbang saat penipu harus bertemu langsung dengan calon korban. 

"Kalau di media sosial kan gampang, penipu bisa menghapus atau memblokir korbannya. Risiko tertangkapnya jauh lebih rendah dan upaya penindakannya yang lebih sulit," jelas Enda.




TERBARU

[X]
×