kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.217   -48,84   -0,59%
  • KOMPAS100 1.159   -9,43   -0,81%
  • LQ45 830   -9,10   -1,08%
  • ISSI 294   -1,42   -0,48%
  • IDX30 432   -3,74   -0,86%
  • IDXHIDIV20 516   -5,62   -1,08%
  • IDX80 129   -1,17   -0,89%
  • IDXV30 142   -0,76   -0,53%
  • IDXQ30 139   -1,87   -1,33%

Ini Pendorong Kenaikan Kinerja Chandra Asri (TPIA) Tahun 2021


Selasa, 15 Maret 2022 / 15:11 WIB
Ini Pendorong Kenaikan Kinerja Chandra Asri (TPIA) Tahun 2021
ILUSTRASI. Pabrik Chandra Asri di Cilegon.


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) berhasil mencetak kinerja apik sepanjang 2021. Emiten produsen bahan petrokimia ini membukukan pendapatan senilai US$ 2,58 miliar atau naik 43% dari realisasi pendapatan tahun 2020 yang hanya US$ 1,80 miliar.

Dari sisi bottom line, TPIA membukukan laba bersih senilai US$ 152,12 juta. Realisasi ini naik 196,23% dari laba bersih tahun 2020 yang hanya US$ 51,35 juta. Artinya, laba bersih TPIA melonjak hampir 3 kali lipat.

EBITDA Chandra Asri juga meningkat secara signifikan sebesar 90,8% menjadi US$ 356,2 juta, terutama karena peningkatan spread dan realisasi strategi ketahanan keuangan.

Sementara itu, margin EBITDA juga meningkat menjadi 13,8% dari sebelumnya 10,3% pada 2020. Angka ini mencerminkan margin yang lebih baik dan lebih sehat.

Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) Gelontorkan Capex US$ 200 Juta pada 2022, Ini Penggunaannya

Suryandi, Direktur SDM & Urusan Korporat TPIA mengatakan, kinerja apik TPIA sepanjang tahun lalu tidak terlepas dari harga jual rata-rata yang lebih tinggi di semua produk.

Selama 2021, harga Polyethylene naik menjadi US$1,253 per ton dari sebelumnya US$ 902 per ton, Polypropylene naik menjadi US$ 1,446 per ton dari US$ 1.023 per ton, dan Styrene Monomer naik menjadi US$1.182 per ton dari sebelumnya US$ 780 per ton.  Sementara volume penjualan relatif stabil di level 2.211 ton.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan di 2021 meningkat 36,2% menjadi US$ 2,23 miliar dibandingkan dengan tahun 2020 sebesar US$ 1,64 miliar. Kenaikan ini karena harga bahan baku rata-rata yang lebih tinggi dengan harga Naphtha naik menjadi US$ 659 per ton dari harga rata-rata pada 2020 sebesar US$ 414 per ton.

Kenaikan harga bahan baku ini dilatarbelakangi oleh harga minyak mentah Brent yang naik naikan 70% dari tahun ke tahun menjadi rata-rata US$ 71 per barel dari sebelumnya US$ 42 per barel pada 2020.

Meskipun beban pokok pendapatan mengalami kenaikan, peningkatan kinerja topline membantu secara signifikan dalam  meningkatkan laba kotor. Selama tahun 2021, laba kotor naik lebih dari dua kali lipat ke level US$ 345,0 juta.

Untuk tahun ini, Suryandi meyakini prospek industry petrokimia masih cukup menjanjikan. Indonesia sampai saat ini masih dalam kondisi net impor untuk bahan petrokimia. Artinya, kebutuhan produk petrokimia belum bisa 100% dipenuhi oleh kapasitas dalam negeri.

“Industri plastik menjadi penyerap, terutama kemasan. Kemudian industri otomotif di dalam penyerapan bahan-bahan komponen plastik,” terang Suryandi dalam public expose yang digelar Selasa (15/3).

Suryandi mengatakan, harga minyak saat ini memang bergerak cukup fluktuatif. Sempat naik tinggi, namun harga minyak saat ini mulai melandai. Saat ini TPIA masih terus mencermati dampak kenaikan minyak ini terhadap kinerja TPIA.

Baca Juga: Laba Bersih Chandra Asri (TPIA) Melonjak 3 Kali Lipat Sepanjang 2021

Dia mengatakan, kenaikan harga minyak ini akan berdampak ke harga naphtha. Oleh sebab itu, untuk mengatasi kenaikan harga minyak yang menjadi bahan baku, anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ini telah menyiapkan sejumlah strategi.

TPIA akan selalu mencermati tingkat inventaris naphtha serta proses pembelian naphtha untuk memaksimalkan produksi. Di satu sisi, kenaikan harga bahan baku ini juga diimbangi dengan kenaikan harga jual petrokimia.

Dirketur Keuangan Chandra Asri Andre Khor menambahkan, TPIA memiliki natural hedging sehingga margin keuntungan akan terproteksi.

Value chain juga terintergasi sehingga minim volatilitas. Kami juga aktif mengatur biaya operasional atau operational expenditure (opex),” terang Andre di kesempatan yang sama.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×