kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.008,28   13,06   1.31%
  • EMAS981.000 0,41%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Ini Tanggapan Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Terkait Lonjakan Harga Jagung


Selasa, 01 Maret 2022 / 20:41 WIB
Ini Tanggapan Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Terkait Lonjakan Harga Jagung
ILUSTRASI. Petani mengupas jagung di area persawahan


Reporter: Vina Elvira | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) menyampaikan bahwa lonjakan yang terjadi pada harga jagung global belum bisa dipastikan kapan akan berakhir. Hal ini lantaran sejumlah kondisi yang tengah berlangsung di negara-negara penghasil jagung terbesar di dunia.

Ketua Umum GPMT Desianto Budi Utomo menjelaskan, harga jagung global sudah mengalami kenaikan sejak kuartal IV-2021, hal ini lantaran adanya kekeringan yang berdampak pada aktivitas panen, di negara-negara produsen dan eksportir jagung, seperti Amerika Serikat dan Amerika Latin.

Tak hanya itu, kisruh harga jagung global juga dipicu oleh konflik yang terjadi antara Rusia-Ukraina. Sebagaimana diketahui, Ukraina juga merupakan penghasil jagung dan gandum terbesar di Eropa, dengan demikian, kondisi tersebut dapat mempengaruhi supply global.

Baca Juga: Harga Komoditas Global yang Dipasok Rusia, Naik Pasca Seruan Siaga Level Tinggi Putin

"Sampai kapan lonjakan harga jagung tersebut akan terjadi? Tidak ada yg tahu, ketika masalah kekeringan drop, kemudian perang Rusia-Ukraina itu teratasi, baru bisa diprediksi berapa supply (jagung) yang akan tersedia secara global," ujar Budi, saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (1/3).

Dia menuturkan, terkait dampak kenaikan harga jagung global terhadap harga jagung lokal, sebenarnya tidak berdampak terlalu signifikan. Hal itu karena sejak tahun 2016, industri pakan dalam negeri sudah sepenuhnya menggunakan jagung lokal untuk bahan baku produksi pakan mereka.

Saat ini, jagung lokal tengah dalam musim panen, dan harga rata-ratanya sudah mencapai Rp 5,400 kg - Rp 5,600 kg (KA 15% franco pabrik). 

"Tetapi dibandingkan harga jagung impor, harga jagung lokal sudah hampir sama atau mendekati. Jadi tidak berbeda signifikan harga lokal dan impor," tutur dia.

Di sisi lain, Budi melihat bahwa permintaan pakan ternak di awal 2022 ini masih hampir sama kondisinya dengan tahun lalu. Hal ini disebabkan adanya pengetatan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, permintaan pakan ternak, akan sangat bergantung pada konsumsi ayam dan telur, karena 90% dari produksi pakan ternak itu merupakan pakan ayam.

Baca Juga: Perum Bulog Menyatakan Siap Menjaga Stabilitas Pasokan Jagung

Sedangkan ketika ada pengetatan level PPKM, biasanya akan menurunkan daya beli masyarakat, termasuk terhadap konsumsi ayam dan telur, sehingga otomatis akan berpengaruh terhadap kebutuhan pakan ayam.

"Jika dibandingkan 2021, masih tergantung dari daya beli masyarakat dan demand ayam dan telur. Walaupaun ayam dan telur memberikan kontribusi 65% sebagai sumber protein hewani, tetapi sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat. Jadi kalau daya beli masyarakat turun, otomatis permintaan ayam dan telur akan turun juga, dan demand pakan ayam juga akan turun," jelas Budi.

Meski begitu, GPMT tetap optimistis permintaan pakan tahun ini dapat tumbuh 5% sampai dengan 6% dibandingkan tahun 2021. Dengan harapan, kondisi pandemi akan semakin melandai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Supply Chain Management Principles (SCMP)

[X]
×