kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45874,12   -12,06   -1.36%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Investasi Migas Naik Tapi Produksi Minyak Turun, Ini Kata Aspermigas dan Pengamat


Selasa, 23 April 2024 / 20:05 WIB
Investasi Migas Naik Tapi Produksi Minyak Turun, Ini Kata Aspermigas dan Pengamat


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) meyakini target investasi hulu migas sebesar US$ 17,7 miliar tahun ini bisa tercapai.

Kendati realisasi investasi naik, tapi tidak dengan realisasi produksi minyak. SKK Migas melaporkan, lifting minyak sepanjang 2023 hanya sekitar 605.500 barel per hari (bph).

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Hudi Suryodipuro meyakini target tersebut bakal dicapai dengan beberapa pendorong terutama kenaikan di kegiatan pengeboran yaitu workover dan well service.

"Kalau dari kami yakin [bisa tercapai], dari kegiatan tersebut kan investasinya besar," kata Hudi kepada KONTAN, Selasa (23/4).

Baca Juga: SKK Migas Yakin Target Investasi Hulu Migas US$ 17,7 Miliar Tahun Ini Tercapai

Secara rinci, target investasi di tahun ini tumbuh 29% dari realisasi penanaman modal hulu migas sepanjang 2023 yang mencapai US$ 13,7 miliar. 

Pengamat & Praktisi Migas Tumbur Parlindungan mengatakan, investasi yang naik saat ini mungkin has?lnya baru akan didapat pada tahun-tahun mendatang. Sebagai contoh investasi eksplorasi pada tahun ini dan bila berhasil, kenaikan produksinya baru terjadi 3-5 tahun ke depan.

Menurut Tumbur, investasi yang besar memang dibutuhkan terutama untuk eksplorasi dan faslitas produks. Kenaikan produksi baru dirasakan beberapa tahun kemudian.

"Seharusnya target investasi hulu migas tahun ini bisa tercapai karena harga minyak tinggi dan semua akan berusaha investasi di Hulu migas untuk memanfaatkan kondisi harga komoditas yang tinggi," kata Tumbur kepada KONTAN, Selasa (23/4).

Sementara itu, Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan, sejak tahun sebelumnya investasi sudah naik yang bersumber dari dalam negeri (Pertamina) dan asing. Pertamina memegang 60% produksi migas di Indonesia. Pertamina memiliki tanggung jawab untuk produksi migas, sedangkan lapangan-lapangan milik Pertamina mayoritas sudah berumur tua dan perpanjangan tangan dari perusahaan sebelumnya.

"Sudah sewajarnya investasi meningkat untuk merawat lapangan-lapangan yang sudah tua karena biayanya mahal dariapada lapangan baru," ungkap Rizal kepada KONTAN, Selasa (23/4).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×